Nabi Ishaq AS

 


Nabi Ishaq adalah putra Nabi Ibrahim dari istrinya, Sarah. Sedangkan Nabi Ismail adalah putra Nabi Ibrahim dari Hajar, seorang dayang yang diterimanya sebagai hadiah dari Raja Namrud.

Tentang Nabi Ishaq tidak banyak dikisahkan dalam Al-Qur’an, kecuali dalam beberapa ayat. Di antaranya adalah ayat 69–74 dari Surah Hud, sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan, ‘Selamat.’ Ibrahim menjawab, ‘Selamatlah.’ Maka tidak lama kemudian Ibrahim menjamukan daging anak sapi yang dipanggang.

  1. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus untuk kaum Luth.’

  2. Dan istrinya berdiri di sampingnya lalu tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira akan (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya’qub.

  3. Istrinya berkata, ‘Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua dan suamiku pun dalam keadaan sudah tua? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang aneh.’

  4. Para malaikat itu berkata, ‘Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu, wahai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.’

  5. Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth.”
    (Hud: 69–74)

Selain ayat-ayat di atas yang membawa berita akan lahirnya Nabi Ishaq dari kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia—yang menurut sebagian riwayat usia Sarah pada waktu itu telah mencapai sembilan puluh tahun—terdapat pula beberapa ayat yang menetapkan kenabiannya.

Di antaranya adalah ayat 49 Surah Maryam sebagai berikut:

“Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.”

Demikian pula ayat 112–113 Surah Ash-Shaffat:

“112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.

  1. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya dengan nyata.”

Catatan Tambahan
Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim wafat pada usia 175 tahun, Nabi Ismail pada usia 137 tahun, dan Nabi Ishaq pada usia 180 tahun.

Sumber: http://www.dzikir.org/b_ceri09.html

25 Nabi dan Rasul dalam Islam: Kisah, Mukjizat, dan Pelajaran Hidup yang Menguatkan Iman

 


Bismillahirrahmanirrahim.

Saat saya menulis artikel ini, hati saya benar-benar ingin menghadirkan kembali kisah-kisah para nabi dan rasul bukan sekadar sebagai cerita sejarah, tetapi sebagai cermin kehidupan kita hari ini. Kita hidup di zaman yang serba cepat, penuh ujian, penuh distraksi. Namun jika kita kembali membaca kisah para utusan Allah, kita akan sadar bahwa ujian mereka jauh lebih berat, tetapi iman mereka jauh lebih kokoh.

Di dalam , Allah banyak sekali menceritakan tentang para nabi dan rasul. Bukan tanpa alasan. Kisah mereka adalah penguat hati, peneguh iman, dan pelajaran hidup yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.

Dalam artikel ini, saya akan mengajak Anda mengenal kembali 25 nabi dan rasul yang wajib kita imani dalam Islam, memahami perbedaan nabi dan rasul, mengetahui mukjizat mereka, serta mengambil hikmah yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Pengertian Nabi dan Rasul

Sebelum kita masuk ke kisah satu per satu, mari kita pahami dulu apa itu nabi dan rasul.

Secara sederhana:

  • Nabi adalah manusia pilihan Allah yang menerima wahyu untuk dirinya sendiri dan untuk disampaikan kepada kaumnya.
  • Rasul adalah nabi yang mendapat wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan risalah kepada umat yang sering kali menentangnya.

Semua rasul adalah nabi, tetapi tidak semua nabi adalah rasul.

Salah satu rasul terakhir dan penutup para nabi adalah , yang membawa risalah Islam sebagai penyempurna ajaran sebelumnya.


Urutan 25 Nabi dan Rasul yang Wajib Kita Imani

Berikut adalah 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an:


Kisah Singkat dan Pelajaran dari Setiap Nabi

1. Nabi Adam – Awal Kehidupan Manusia

Nabi Adam adalah manusia pertama yang Allah ciptakan. Dari beliau, seluruh umat manusia berasal. Kisahnya mengajarkan tentang taubat. Ketika melakukan kesalahan, beliau langsung memohon ampun kepada Allah.

Pelajaran yang saya ambil: manusia tidak luput dari salah, tetapi yang membedakan adalah seberapa cepat kita kembali kepada Allah.


2. Nabi Nuh – Dakwah Tanpa Lelah

Nabi Nuh berdakwah ratusan tahun, namun hanya sedikit yang beriman. Beliau tetap sabar meski dihina dan diejek.

Mukjizatnya adalah bahtera besar yang menyelamatkan orang beriman dari banjir besar.

Pelajaran: hasil bukan urusan kita, tugas kita hanya berusaha dan bersabar.


3. Nabi Ibrahim – Tauhid dan Pengorbanan

Nabi Ibrahim dikenal sebagai bapak para nabi. Beliau diuji dengan dibakar hidup-hidup, diperintahkan meninggalkan keluarga, bahkan menyembelih putranya.

Namun beliau selalu taat.

Pelajaran terbesar: iman sejati lahir dari ketaatan total kepada Allah.


4. Nabi Yusuf – Sabar dalam Ujian

Dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah dan dipenjara. Namun akhirnya menjadi penguasa Mesir.

Kisah Nabi Yusuf mengajarkan bahwa kesabaran tidak pernah mengkhianati hasil.


5. Nabi Ayyub – Sabar dalam Penyakit

Beliau diuji dengan sakit bertahun-tahun, kehilangan harta dan keluarga.

Namun tidak pernah mengeluh.

Pelajaran: sabar bukan berarti tidak merasa sakit, tetapi tetap percaya kepada Allah dalam keadaan sulit.


6. Nabi Musa – Keberanian Melawan Kezaliman

Nabi Musa menghadapi Fir’aun, penguasa zalim yang mengaku sebagai tuhan.

Dengan izin Allah, tongkatnya berubah menjadi ular dan laut terbelah.

Pelajaran: kebenaran pasti menang, walau harus melewati perjuangan panjang.


7. Nabi Sulaiman – Kekuasaan dan Syukur

Beliau diberi kerajaan besar, bisa berbicara dengan hewan, mengendalikan angin dan jin.

Namun tetap rendah hati dan bersyukur.

Pelajaran: kekuasaan tanpa syukur hanya akan membawa kehancuran.


8. Nabi Yunus – Kesalahan dan Taubat

Nabi Yunus pernah meninggalkan kaumnya sebelum mendapat izin Allah, lalu ditelan ikan besar.

Dalam perut ikan, beliau berdoa dengan penuh penyesalan.

Pelajaran: jangan pernah putus asa dari rahmat Allah.


9. Nabi Isa – Mukjizat Luar Biasa

Nabi Isa diberi mukjizat bisa menyembuhkan orang buta, menghidupkan orang mati dengan izin Allah.

Beliau berdakwah dengan kelembutan dan kasih sayang.

Pelajaran: dakwah harus disertai akhlak yang mulia.


10. Nabi Muhammad – Teladan Sepanjang Zaman

Beliau adalah penutup para nabi. Diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Akhlaknya begitu mulia. Sabar saat dihina, tetap memaafkan saat berkuasa.

Pelajaran terbesar yang selalu saya renungkan: kekuatan sejati ada pada akhlak.


Mengapa Kisah Nabi dan Rasul Penting untuk Kita?

Kadang kita merasa ujian hidup terlalu berat. Masalah ekonomi, keluarga, pekerjaan, kesehatan. Namun jika kita membaca kisah para nabi, kita akan sadar:

  • Ujian bukan tanda Allah tidak sayang.
  • Kesulitan bukan akhir segalanya.
  • Sabar selalu berbuah manis.
  • Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Kisah para nabi bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah peta kehidupan.


Hikmah Besar dari 25 Nabi dan Rasul

  1. Tauhid adalah fondasi utama.
  2. Sabar adalah kunci keselamatan.
  3. Syukur menjaga nikmat.
  4. Taubat membuka pintu harapan.
  5. Dakwah butuh keteguhan hati.
  6. Akhlak lebih kuat dari kekuasaan.

Penutup

Menulis tentang nabi dan rasul membuat saya sadar bahwa hidup ini hanyalah perjalanan singkat. Yang terpenting bukan seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, tetapi seberapa kuat iman yang kita jaga.

Semoga dengan membaca kisah 25 nabi dan rasul ini, hati kita menjadi lebih lembut, iman kita semakin kuat, dan langkah kita semakin dekat kepada Allah.

Jika artikel ini bermanfaat, semoga menjadi amal jariyah bagi saya dan Anda yang membacanya.

Wallahu a’lam bishawab.

Hudzaifah Ibnul Yaman

 


Penduduk kota Madinah berduyun-duyun keluar untuk menyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru, yang diangkat dan dipilih oleh Amirul Mu’minin, radhiyallahu ‘anhu. Mereka pergi menyambutnya karena telah lama hati mereka rindu untuk bertemu dengan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar tentang keshalihan dan ketakwaannya, serta jasa-jasanya dalam membebaskan tanah Irak.

Ketika mereka sedang menunggu rombongan yang akan datang, tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. Ia mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang. Kedua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti dan garam, sementara mulutnya sedang mengunyah.

Tatkala ia berada di tengah-tengah orang banyak dan mereka mengetahui bahwa orang itu tidak lain adalah radhiyallahu ‘anhu, mereka pun bingung dan hampir-hampir tak percaya. Namun, apa yang perlu diherankan? Corak kepemimpinan seperti apa yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar radhiyallahu ‘anhu? Hal itu dapat dipahami, karena baik pada masa kerajaan Persia yang terkenal itu maupun sebelumnya, belum pernah dikenal corak pemimpin semulia dan sesederhana ini.

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu meneruskan perjalanan, sementara orang-orang berkerumun mengelilinginya. Ketika ia melihat mereka menatapnya seakan menunggu amanat, diperhatikannya wajah-wajah mereka, lalu ia berkata, “Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah!”

Mereka bertanya, “Di manakah tempat-tempat fitnah itu, wahai Abu Abdillah?”

Ia menjawab, “Pintu-pintu rumah para pembesar. Seseorang masuk menemui mereka, lalu membenarkan ucapan palsu mereka dan memuji perbuatan baik yang tidak pernah mereka lakukan.”

Suatu pernyataan yang luar biasa dan sangat menakjubkan. Dari ucapan wali negeri yang baru ini, orang-orang segera menyimpulkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih dibencinya di dunia ini selain kemunafikan. Pernyataan itu sekaligus merupakan gambaran paling tepat tentang kepribadiannya dan sistem pemerintahan yang akan ditempuhnya.

Hudzaifah ibnu Yaman radhiyallahu ‘anhu memasuki kehidupan dengan bekal tabiat yang istimewa. Di antara cirinya ialah sikap anti kemunafikan dan kemampuannya melihat jejak serta gejalanya, walaupun tersembunyi jauh sekalipun.

Sejak ia bersama saudaranya, Shafwan, menemani ayahnya menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka memeluk Islam, wataknya semakin terang dan cemerlang. Ia menganut Islam dengan teguh dan suci, lurus serta gagah berani. Ia memandang sifat pengecut, bohong, dan munafik sebagai sifat yang rendah dan hina.

Ia terdidik di tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hati yang terbuka laksana cahaya subuh. Tidak ada persoalan hidup yang tersembunyi baginya. Ia seorang yang benar dan jujur, mencintai orang-orang yang teguh membela kebenaran, dan membenci orang-orang yang berbelit-belit serta bermuka dua.

Bakatnya tumbuh subur dalam pangkuan Islam, di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan di tengah para sahabat perintis. Ia menjadi ahli dalam membaca tabiat dan air muka seseorang. Dalam sekejap, ia dapat menebak isi hati dan menyelidiki rahasia yang tersembunyi.

Kemampuannya diakui hingga Amirul Mu’minin Umar radhiyallahu ‘anhu yang dikenal cerdas dan penuh inspirasi sering mengandalkan pendapat Hudzaifah serta ketajaman pandangannya dalam mengenali tokoh-tokoh.

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkesimpulan bahwa dalam kehidupan ini kebaikan adalah sesuatu yang jelas dan gamblang bagi orang yang benar-benar menginginkannya. Sebaliknya, keburukan adalah sesuatu yang samar dan gelap. Karena itu, orang bijak hendaknya mempelajari sumber-sumber kejahatan dan kemungkinan-kemungkinannya.

Ia pernah berkata, “Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan aku menanyakan tentang kejahatan, karena takut terjerumus ke dalamnya.”

Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam kejahiliahan dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?”

Beliau menjawab, “Ada.”

“Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan lagi?”

“Ada, tetapi di dalamnya terdapat kekaburan.”

“Apa kekaburannya?”

“Suatu kaum mengikuti sunnah yang bukan sunnahku dan petunjuk yang bukan petunjukku. Engkau akan mengenal mereka.”

“Apakah setelah itu ada keburukan lagi?”

“Ada, para penyeru di pintu-pintu neraka. Siapa yang mengikuti mereka akan dilemparkan ke dalamnya.”

“Jika aku mendapati keadaan demikian, apa yang harus kulakukan?”

“Ikutilah jamaah kaum Muslimin dan pemimpin mereka.”

“Bagaimana jika mereka tidak memiliki jamaah dan pemimpin?”

“Tinggalkan semua golongan itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga ajal menjemputmu.”

Demikianlah Hudzaifah menjalani hidup dengan mata terbuka dan hati waspada terhadap sumber-sumber fitnah. Ia menganalisis kehidupan, mengkaji pribadi manusia, dan meraba situasi dengan tajam.

Ia juga berkata, “Hati itu ada empat macam: hati yang tertutup, itulah hati orang kafir; hati yang bermuka dua, itulah hati orang munafik; hati yang bersih dan di dalamnya ada pelita yang menyala, itulah hati orang beriman; dan hati yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan sekaligus. Iman itu laksana tanaman yang disirami air jernih, sedangkan kemunafikan seperti bisul yang disirami darah dan nanah. Mana yang lebih kuat, itulah yang akan menang.”

Dalam Perang Uhud, ia menyaksikan ayahnya gugur karena kekeliruan pasukan Muslim yang menyangkanya musyrik. Ia berteriak, “Ayahku! Itu ayahku!” Namun takdir Allah telah berlaku. Ketika kaum Muslimin mengetahui peristiwa itu, mereka sangat berduka. Hudzaifah justru berkata, “Semoga Allah mengampuni kalian. Dia sebaik-baik Penyayang.” Bahkan ia menolak diyat dan menyerahkannya kepada kaum Muslimin.

Pada Perang Khandaq, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilihnya untuk menyusup ke perkemahan musuh di malam yang gelap dan penuh badai. Dengan keberanian dan kecerdikannya, ia berhasil mengetahui keadaan musuh dan kembali membawa kabar gembira.

Dalam penaklukan Irak dan pertempuran besar Nahawand melawan Persia, Hudzaifah menunjukkan kepahlawanan luar biasa. Ketika panglima Nu’man bin Muqarrin gugur, ia segera mengambil panji dan memimpin pasukan hingga Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum Muslimin.

Ia juga turut memilih lokasi kota Kufah ketika kaum Muslimin meninggalkan Madain. Dengan pengamatannya, dipilihlah tempat yang kemudian berkembang menjadi kota yang makmur.

Menjelang wafatnya pada tahun 36 Hijriah, ia meminta kain kafan sederhana. Ketika melihat kain yang dibawakan agak mewah, ia berkata, “Ini tidak cocok bagiku. Cukuplah dua helai kain putih. Tidak lama lagi aku akan berada dalam kubur.”

Menjelang akhir hayatnya ia berkata lirih, “Selamat datang, wahai maut. Kekasih datang di saat rindu.”

Demikianlah wafatnya seorang sahabat mulia, seorang pejuang hikmah dan medan laga, yang hidupnya dipenuhi ketakwaan dan kewaspadaan terhadap fitnah.

Hafshah binti Umar bin Khaththab

 


Beliau adalah Hafshah binti Umar, putri dari Umar bin Khaththab, seorang sahabat agung yang melalui perantaranya Islam memiliki wibawa dan kekuatan. Hafshah adalah seorang wanita muda yang berparas cantik, bertakwa, dan disegani.

Pada mulanya, beliau dinikahi oleh seorang sahabat mulia bernama Khunais bin Khudzafah bin Qais As-Sahmi Al-Quraisy. Ia termasuk sahabat yang berhijrah dua kali, ikut serta dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Namun setelah itu, ia wafat di negeri hijrah akibat sakit yang dideritanya sepulang dari Perang Uhud. Ia meninggalkan seorang istri muda yang bertakwa, yakni Hafshah, yang ketika itu masih berusia 18 tahun.

Umar bin Khaththab sangat gelisah melihat putrinya menjanda dalam usia muda. Ia juga masih merasakan kesedihan atas wafatnya menantu yang merupakan seorang muhajir dan mujahid. Setiap kali memasuki rumah dan melihat putrinya dalam keadaan berduka, kesedihannya semakin terasa. Setelah berpikir panjang, Umar berkesimpulan untuk mencarikan suami bagi putrinya agar ia kembali mendapatkan kebahagiaan yang sempat ia rasakan selama kurang lebih enam bulan pernikahannya.

Pilihan Umar pertama kali jatuh kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, orang yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar berharap, dengan sifat tenggang rasa dan kelembutannya, Abu Bakar dapat membimbing Hafshah yang mewarisi watak ayahnya: bersemangat tinggi dan tegas. Umar pun menemui Abu Bakar dan menceritakan keadaan putrinya, lalu menawarkannya untuk menikahi Hafshah. Namun Abu Bakar tidak memberikan jawaban. Umar pun berpaling dengan perasaan kecewa.

Kemudian Umar mendatangi Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu baru saja ditinggal wafat istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah. Umar menawarkan Hafshah kepadanya, tetapi Utsman menjawab bahwa ia belum ingin menikah saat itu. Kesedihan Umar pun semakin bertambah.

Akhirnya Umar menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengadukan keadaan tersebut. Rasulullah tersenyum dan bersabda:

“Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik daripada Abu Bakar dan Utsman. Dan Utsman akan menikahi wanita yang lebih baik daripada Hafshah.”

Wajah Umar pun berseri-seri mendengar kabar tersebut. Ternyata yang dimaksud adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang akan menikahi Hafshah, dan Utsman akan menikahi Ummu Kultsum binti Rasulullah. Pernikahan Nabi dengan Hafshah terjadi pada bulan Sya’ban tahun ketiga Hijriah, sedangkan Utsman menikahi Ummu Kultsum pada bulan Jumadil Akhir tahun yang sama.

Setelah menikah, Hafshah bergabung dengan istri-istri Rasulullah dan menjadi salah satu Ummahatul Mukminin. Saat itu di rumah tangga Nabi telah ada Saudah dan Aisyah. Sebagaimana lumrahnya dalam rumah tangga, muncul rasa cemburu. Hafshah berusaha mendekati dan bersikap lembut kepada Aisyah, mengikuti pesan ayahnya yang mengingatkannya agar bersikap rendah hati.

Pernah terjadi peristiwa ketika Hafshah dan Aisyah membuat Rasulullah kurang berkenan, hingga turun firman Allah dalam Surah At-Tahrim ayat 4 yang menegur keduanya agar bertaubat.

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah pernah menceraikan Hafshah satu kali karena suatu sebab, namun kemudian beliau merujuknya kembali atas perintah Jibril ‘alaihissalam yang mengatakan bahwa Hafshah adalah wanita yang rajin berpuasa, rajin shalat, dan akan menjadi istri beliau di surga.

Hafshah pernah merasa bersalah karena menyebarkan rahasia Rasulullah, tetapi beliau akhirnya tenang setelah dimaafkan. Sejak itu, beliau hidup harmonis bersama Nabi hingga wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah Rasulullah wafat dan kepemimpinan dipegang oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, Hafshah termasuk di antara Ummahatul Mukminin yang dipercaya untuk menyimpan mushaf Al-Qur’an yang pertama kali dihimpun. Amanah besar ini menunjukkan kedudukan dan kepercayaannya di tengah kaum Muslimin.

Hafshah menjalani sisa hidupnya sebagai ahli ibadah, rajin berpuasa dan shalat. Ia dikenal sebagai wanita yang menjaga Al-Qur’an, mukjizat yang kekal dan sumber hukum umat Islam.

Ketika ayahnya, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, mendekati ajal setelah ditikam oleh Abu Lu’lu’ah pada bulan Dzulhijjah tahun 23 Hijriah, Hafshah menjadi salah satu putri yang menerima wasiat darinya.

Hafshah radhiyallahu ‘anha wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu. Semoga Allah meridhai beliau, seorang wanita yang disebut oleh Jibril sebagai wanita yang rajin berpuasa dan shalat, serta istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Asma Binti Umais | Kisah-Kisah Teladan

 

Ilustrasi Asma' Binti Umais

Asma’ binti Umais radhiyallâhu ‘anhâ

Beliau adalah Asma’ binti Umais bin Ma‘d bin Tamim bin Al-Harits bin Ka‘ab bin Malik bin Quhafah, yang dipanggil Ummu ‘Abdillah. Beliau termasuk salah satu dari empat wanita mukminah yang disebutkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Ada empat wanita mukminah: Maimunah, Ummu Fadhl, Salma, dan Asma’.”

Beliau masuk Islam sebelum kaum muslimin memasuki rumah Al-Arqam. Asma’ adalah istri seorang pahlawan besar di antara para sahabat, yaitu , sahabat yang mendapat gelar Dzul Janahain (yang memiliki dua sayap) dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada Abdullah bin Ja‘far, beliau bersabda:

“Selamat atasmu wahai putra dari seorang yang memiliki dua sayap.”

Asma’ termasuk wanita muhajirah pertama. Ia berhijrah bersama suaminya menuju Habasyah (Ethiopia) dan merasakan pahit getir kehidupan di pengasingan. Suaminya menjadi juru bicara kaum muslimin di hadapan Raja Habasyah, An-Najasyi.

Di negeri pengasingan itu, Asma’ melahirkan tiga putra: Abdullah, Muhammad, dan ‘Aun. Abdullah sangat mirip dengan ayahnya, sedangkan Ja‘far sangat mirip dengan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Hal itu membuat hati Asma’ bahagia dan menumbuhkan kerinduan untuk berjumpa dengan Rasulullah.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Ja‘far:

“Engkau menyerupai fisikku dan akhlakku.”

Ketika Rasulullah memerintahkan para muhajirin untuk berangkat menuju Madinah, hampir-hampir Asma’ terbang karena kegirangan. Inilah mimpi yang menjadi kenyataan: kaum muslimin memiliki negeri sendiri dan kelak akan menjadi tentara-tentara Islam yang menyebarkan agama Allah.

Asma’ kembali berhijrah untuk kedua kalinya dari Habasyah menuju Madinah. Ketika rombongan muhajirin tiba, mereka mendengar kabar kemenangan kaum muslimin dalam Perang Khaibar. Takbir menggema di segala penjuru karena kegembiraan atas kemenangan itu dan kedatangan para muhajirin.

Ja‘far disambut Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan penuh kebahagiaan. Beliau mencium dahinya seraya bersabda:

“Demi Allah, aku tidak tahu mana yang lebih menggembirakanku, kemenangan Khaibar atau kedatangan Ja‘far.”

Suatu hari Asma’ berada di rumah Hafshah binti Umar ketika Umar masuk dan bertanya, “Siapakah wanita ini?” Hafshah menjawab, “Ia Asma’ binti Umais.” Umar berkata, “Kami telah mendahului kalian berhijrah bersama Rasulullah, maka kami lebih berhak atas beliau daripada kalian.”

Asma’ marah dan berkata, “Tidak, demi Allah! Kalian bersama Rasulullah dan beliau memberi makan orang lapar di antara kalian serta mengajarkan orang yang belum tahu. Adapun kami di negeri yang jauh dan tidak disukai, yaitu Habasyah, semua itu demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Ia bersumpah akan melaporkan hal itu kepada Rasulullah. Ketika Rasulullah datang, beliau bertanya kepada Umar, lalu bersabda kepada Asma’:

“Tidak seorang pun yang lebih berhak atasku daripada kalian. Mereka berhijrah satu kali, sedangkan kalian—Ahlus Safinah (rombongan kapal)—telah berhijrah dua kali.”

Hati Asma’ pun berbunga-bunga. Ia menyampaikan kabar itu kepada para sahabat, termasuk Abu Musa dan rombongan yang dahulu berlayar bersamanya.

Ketika pasukan kaum muslimin menuju Syam, Ja‘far termasuk salah satu panglima. Di medan perang Mu’tah, Allah memilihnya sebagai syahid. Rasulullah mendatangi rumah Asma’, mencium anak-anaknya, dan menangis. Ketika ditanya, beliau bersabda, “Benar, Ja‘far gugur hari ini.”

Beliau menghibur Asma’ dan bersabda:

“Berkabunglah selama tiga hari, kemudian berbuatlah sesukamu setelah itu.”

Beliau juga bersabda:

“Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja‘far, karena telah datang peristiwa yang menyibukkan mereka.”

Ja‘far gugur setelah kedua tangannya terputus saat memegang panji, hingga akhirnya Allah menggantinya dengan dua sayap di surga.

Setelah wafat Ja‘far, Asma’ dipinang oleh setelah wafatnya istrinya. Asma’ menerima pinangan itu dan hidup dalam rumah tangga penuh iman. Dari pernikahan ini lahir Muhammad bin Abu Bakar.

Asma’ menyaksikan wafatnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan masa kekhalifahan Abu Bakar, termasuk perjuangan melawan kaum murtad dan penolak zakat.

Ketika Abu Bakar sakit keras, beliau berwasiat agar dimandikan oleh Asma’. Saat beliau wafat, Asma’ melaksanakan wasiat itu dengan penuh kesabaran dan kesetiaan, bahkan membatalkan puasanya demi menaati pesan suaminya.

Setelah wafat Abu Bakar, Asma’ dilamar oleh , saudara Ja‘far. Ia menerima lamaran tersebut dan kembali menjadi istri seorang khalifah setelah Ali diangkat sebagai khalifah keempat.

Asma’ dikenal sebagai wanita yang bijaksana. Ketika putra Ja‘far dan putra Abu Bakar berselisih dan saling membanggakan ayahnya, Ali meminta Asma’ memutuskan. Dengan bijak ia berkata:

“Aku tidak melihat pemuda di Arab yang lebih baik daripada Ja‘far, dan tidak melihat orang tua yang lebih baik daripada Abu Bakar.”

Keputusan itu membuat keduanya puas dan berdamai.

Asma’ menjalani hidup penuh ujian: kehilangan suami, menyaksikan pergolakan umat, hingga wafatnya putranya Muhammad bin Abu Bakar. Namun ia tetap sabar, tidak meratap, dan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.

Akhirnya, setelah sakit yang cukup berat, Asma’ binti Umais wafat. Yang tersisa adalah keteladanan dalam kesabaran, kebijaksanaan, keberanian, dan kesetiaan—sebuah jejak kehormatan yang abadi dalam sejarah Islam.

(Diambil dari buku “Mengenal Shahabiah Nabi”, Penerbit At-Tibyan, dengan penyesuaian bahasa.)


Hijrah ke Madinah
Ilustrasi Hijrah ke Madinah

 Ali ra Menggantikan Rasulullah Saw


Quraisy berencana membunuh Muhammad, karena dikuatirkan ia akan hijrah ke Medinah. Ketika itu kaum Muslimin sudah tak ada lagi yang tinggal kecuali sebagian kecil. Ketika perintah dari Allah Swr datang supaya beliau haijrah, beliau meminta Abu Bakr supaya menemaninya dalam hijrahnya itu. Sebelum itu Abu Bakr memang sudah menyiapkan dua ekor untanya yang diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah b. Uraiqiz sampai nanti tiba waktunya diperlukan.


Pada malam akan hijrah itu pula Muhammad membisikkan kepada Ali b. Abi Talib supaya memakai mantelnya yang hijau dari Hadzramaut dan supaya berbaring di tempat tidurnya. Dimintanya supaya sepeninggalnya nanti ia tinggal dulu di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya. Demikianlah, ketika pemuda-pemuda Quraisy mengintip ke tempat tidur Nabi Saw, mereka melihat sesosok tubuh di tempat tidur itu dan mengira bahwa Nabi Saw masih tidur.


Bersembunyi di Gua Thaur


Menjelang larut malam, Rasulullah Saw keluar tanpa setahu mereka. Bersama-sama dengan Abu Bakr beliau bertolak ke arah selatan menuju gua Thaur. Hanya empat orang yang tahu keberadaan beliau berdua, yaitu Abdullah b. Abu Bakr, Aisyah dan Asma (puteri-puteri Abu Bakr), serta pembantu mereka ‘Amir b. Fuhaira. Bila hari sudah sore Asma, datang membawakan makanan buat mereka. Abdullah setiap hari berada di tengah-tengah Quraisy untuk memantau perkembangan yang terjadi untuk disampaikan pada beliau pada malam harinya. ‘Amir tugasnya menggembalakan kambing Abu Bakr’, memerah susu dan menyiapkan daging. Apabila Abdullah b. Abi Bakr kembali dari tempat mereka bersembunyi di gua itu, datang ‘Amir mengikutinya dengan kambingnya guna menghapus jejaknya.


Sementara itu pihak Quraisy berusaha sungguh-sungguh mencari mereka. Pemuda-pemuda Quraisy membawa pedang dan tongkat sambil mondar-mandir mencari ke segenap penjuru. Ketika itu mereka bergerak menuju ke gua tempat sembunyi. Lalu orang-orang Quraisy itu datang menaiki gua itu, tapi kemudian ada yang turun lagi. “Kenapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?” tanya kawan-kawannya. “Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir,” jawabnya. “Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Jadi saya mengetahui tak ada orang di sana.”


Demikanlah, kalau saja mereka ada yang menengok ke bawah pasti akan melihat beliau berdua. Tetapi orang-orang Quraisy itu makin yakin bahwa dalam gua itu tak ada manusia tatkala dilihatnya ada cabang pohon yang terkulai di mulut gua. Tak ada jalan orang akan dapat masuk ke dalamnya tanpa menghalau dahan-dahan itu. Ketika itulah mereka lalu surut kembali. Rasulullah s.a.w. tinggal dalam gua selama tiga hari tiga malam. Tentang cerita gua ini dikisahkan dalam  firman Allah Swt:


“Ingatlah tatkala orang-orang kafir (Quraisy) itu berkomplot membuat rencana terhadap kau, hendak menangkap kau, atau membunuh kau, atau mengusir kau. Mereka membuat rencana dan Allah membuat rencana pula. Allah adalah Perencana terbaik.” (Qur’an, 8: 30) “Kalau kamu tak dapat menolongnya, maka Allah juga Yang telah menolongnya tatkala dia diusir oleh orang-orang kafir (Quraisy). Dia salah seorang dari dua orang itu, ketika keduanya berada dalam gua. Waktu itu ia berkata kepada temannya itu: ‘Jangan bersedih hati, Tuhan bersama kita!’ Maka Tuhan lalu memberikan ketenangan kepadanya dan dikuatkanNya dengan pasukan yang tidak kamu lihat. Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu juga yang rendah dan kalam Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Kuasa dan Bijaksana.” (Qur’an, 9: 40)


Pada hari ketiga, ketika keadaan sudah tenang, unta kedua orang itu didatangkan. Asma datang makanan. Dikisahkan, Asma merobek ikat pinggangnya lalu sebelahnya dipakai menggantungkan makanan dan yang sebelah lagi diikatkan, sehingga ia lalu diberi nama “dhat’n-nitaqain” (yang bersabuk dua). Mereka kemudian berangkat.


Karena mengetahui pihak Quraisy sangat gigih mencari mereka, maka perjalanan ke Yathrib itu mereka mengambil jalan yang tidak biasa ditempuh orang. Abdullah b. ‘Uraiqit - dari Banu Du’il - sebagai penunjuk jalan, membawa mereka ke arah selatan di bawahan Mekah, kemudian menuju Tihama di dekat pantai Laut Merah.  Kedua orang itu beserta penunjuk jalannya sepanjang malam dan di waktu siang berada di atas kendaraan. Memang, Rasulullah Saw sendiri tidak pernah menyangsikan, bahwa Tuhan akan menolongnya, tetapi “jangan kamu mencampakkan diri ke dalam bencana.” Allah menolong hambaNya selama hamba menolong dirinya dan menolong sesamanya.


Suraqa


Ketika itu Quraisy mengadakan sayembara, barangsiapa bisa menyerahkan Muhammad akan diberi hadiah seratus ekor unta. Mereka sangat giat mencari Rasulullah Saw. Ketika terdengar kabar bahwa ada rombongan tiga orang sedang dalam perjalanan, mereka yakin itu adalah Muhammad dan beberapa orang sahabatnya. Suraqa b. Malik b. Ju’syum, salah seorang dari Quraisy,  juga ingin memperoleh hadiah seratus ekor unta. Tetapi ia ingin memperoleh hadiah seorang diri saja. Ia mengelabui orang-orang dengan mengatakan bahwa itu bukan Muhammad. Tetapi setelah itu ia segera pulang ke rumahnya. Dipacunya kudanya ke arah yang disebutkan tadi seorang diri.


Demikian bersemangatnya Suraqa mengejar Nabi Saw hingga kudanya dua kali tersungkur ketika hendak mencapai Nabi. Tetapi melihat bahwa ia sudah hampir kedua orang itu, ia tetap memacu kudanya karena rasanya Muhammad sudah di tangan. Akan tetapi kuda itu tersungkur sekali lagi dengan keras sekali, sehingga penunggangnya terpelanting dari punggung binatang itu dan jatuh terhuyung-huyung dengan senjatanya. Suraqa merasa itu suatu alamat buruk jika ia bersikeras mengejar sasarannya itu. Sampai di situ ia berhenti dan hanya memanggil-manggil:


“Saya Suraqa bin Ju’syum! Tunggulah, saya mau bicara. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan tuan-tuan.” Setelah kedua orang itu berhenti melihat kepadanya, dimintanya kepada Muhammad supaya menulis sepucuk surat kepadanya sebagai bukti bagi kedua belah pihak. Dengan permintaan Nabi, Abu Bakr lalu menulis surat itu di atas tulang atau tembikar yang lalu dilemparkannya kepada Suraqa. Setelah diambilnya oleh Suraqa surat itu ia kembali pulang. Sekarang bila ada orang mau mengejar Nabi Saw, maka dikaburkan olehnya, sesudah tadinya ia sendiri yang mengejarnya.


Perjalanan Hijrah Rasul Saw


Selama tujuh hari terus-menerus rombongan Rasulullah Saw berjalan, mengaso di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi lautan padang pasir dengan perasaan kuatir. Hanya karena adanya iman kepada Allah Swt membuat hati dan perasaan mereka terasa lebih aman. Ketika sudah memasuki daerah kabilah Banu Sahm dan datang pula Buraida kepala kabilah itu menyambut mereka, barulah perasaan kuatir dalam hatinya mulai hilang. Jarak mereka dengan Yathrib kini sudah dekati.


Selama mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang hijrah Nabi dan sahabatnya yang akan menyusul kawan-kawan yang lain, sudah tersiar di Yathrib. Penduduk kota ini sudah mengetahui, betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari Quraisy yang terus-menerus membuntuti. Oleh karena itu semua kaum Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasulullah dengan hati penuh rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di antara mereka itu yang belum pernah melihatnya, meskipun sudah mendengar tentang keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka rindu sekali ingin bertemu, ingin melihatnya.


Masyarakat Madinah


Tersebarnya Islam di Yathrib dan keberanian kaum Muslimin di kota itu sebelum hijrah Nabi ke tempat tersebut sama sekali di luar dugaan kaum Muslimin Mekah. Beberapa pemuda Muslimin bahkan berani mempermainkan berhala-berhala kaum musyrik di sana. Seseorang yang bernama ‘Amr bin’l-Jamuh mempunyai sebuah patung berhala terbuat daripada kayu yang dinamainya Manat, diletakkan di daerah lingkungannya seperti biasa dilakukan oleh kaum bangsawan. ‘Amr ini adalah seorang pemimpin Banu Salima dan dari kalangan bangsawan mereka pula. Sesudah pemuda-pemuda golongannya itu masuk Islam malam-malam mereka mendatangi berhala itu lalu di bawanya dan ditangkupkan kepalanya ke dalam sebuah lubang yang oleh penduduk Yathrib biasa dipakai tempat buang air. Bila pagi-pagi berhala itu tidak ada ‘Amr mencarinya sampai diketemukan lagi, kemudian dicucinya dan dibersihkan lalu diletakkannya kembali di tempat semula, sambil ia menuduh-nuduh dan mengancam. Tetapi pemuda-pemuda itu mengulangi lagi perbuatannya mempermainkan Manat ‘Amr itu, dan diapun setiap hari mencuci dan membersihkannya. Setelah ia merasa kesal karenanya, diambilnya pedangnya dan digantungkannya pada berhala itu seraya ia berkata: “Kalau kau memang berguna, bertahanlah, dan ini pedang bersama kau.” Tetapi keesokan harinya ia sudah kehilangan lagi, dan baru diketemukannya kembali dalam sebuah sumur tercampur dengan bangkai anjing. Pedangnya sudah tak ada lagi. Sesudah kemudian ia diajak bicara oleh beberapa orang pemuka-pemuka masyarakatnya dan sesudah melihat dengan mata kepala sendiri betapa sesatnya hidup dalam syirik dan paganisma itu, yang hakekatnya akan mencampakkan jiwa manusia ke dalam jurang yang tak patut lagi bagi seorang manusia, iapun masuk Islam.


Mesjid Quba’


Ketika  rombongan Rasulullah Saw sampai di Quba’, mereka tinggal empat hari ia di sana dan membangun mesjid Quba’. Di tempat ini Ali b. Abi-Talib ra menyusul, setelah mengembalikan barang-barang amanat - yang dititipkan oleh rasulullah Saw - kepada pemilik-pemiliknya di Mekah. Ali ra  menempuh perjalanannya ke Yathrib dengan berjalan kaki. Malam hari ia berjalan, siangnya bersembunyi. Perjuangan yang sangat meletihkan itu ditanggungnya selama dua minggu penuh, yaitu untuk menyusul saudara-saudaranya seagama.


Sampai di Madinah (Yathrib)


Demikanlah akhirnya rombongan Rasulullah selamat sampai Madinah. Hari itu adalah hari Jum’at dan Muhammad berjum’at di Medinah. Di tempat itulah, ke dalam mesjid yang terletak di perut Wadi Ranuna itulah kaum Muslimin datang, masing-masing berusaha ingin melihat serta mendekatinya. Mereka ingin memuaskan hati terhadap orang yang selama ini belum pernah mereka lihat, hati yang sudah penuh cinta dan rangkuman iman akan risalahnya, dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang. Orang-orang terkemuka di Medinah menawarkan diri supaya ia tinggal pada mereka.


Tetapi ia dengan halus meminta maaf kepada mereka. Kembali ia ke atas unta betinanya, dipasangnya tali keluannya, lalu ia berjalan melalui jalan-jalan di Yathrib, di tengah-tengah kaum Muslimin yang ramai menyambutnya dan memberikan jalan sepanjang jalan yang diliwatinya itu. Seluruh penduduk Yathrib, baik Yahudi maupun orang-orang pagan menyaksikan adanya hidup baru yang bersemarak dalam kota mereka itu, menyaksikan kehadiran Rasulullah Saw, seorang pendatang baru, orang besar yang telah mempersatukan Aus dan Khazraj, yang selama itu saling bermusuhan, dan saling berperang.


Sesampainya ke sebuah tempat penjemuran kurma kepunyaan dua orang anak yatim dari Banu’n-Najjar, unta itu berlutut (berhenti). Ketika itulah Rasul turun dari untanya dan bertanya: “Kepunyaan siapa tempat ini?” tanyanya. “Kepunyaan Sahl dan Suhail b. ‘Amr,” jawab Ma’adh b. ‘Afra’. Dia adalah wali kedua anak yatim itu. Ia akan membicarakan soal tersebut dengan kedua anak itu supaya mereka puas. Dimintanya kepada Muhammad supaya di tempat itu didirikan mesjid. Muhammad mengabulkan permintaan tersebut dan dimintanya pula supaya di tempat itu didirikan mesjid dan tempat-tinggalnya.