Nabi Huud A.S

“Aad” adalah nama bapa suatu suku yang hidup di Jazirah Arab di suatu tempat bernama “Al-Ahqaf”, terletak di utara Hadramaut antara Yaman dan Oman. Suku ini termasuk suku yang tertua sesudah kaum Nabi Nuh serta terkenal dengan kekuatan jasmani dalam bentuk tubuh-tubuh yang besar dan sasa. Mereka dikurniai oleh Allah tanah yang subur dengan sumber-sumber air yang mengalir dari segala penjuru sehingga memudahkan mereka bercucuk tanam untuk bahan makanan mereka dan memperindah tempat tinggal mereka dengan kebun-kebun bunga yang indah. Berkat kurnia Tuhan itu mereka hidup menjadi makmur, sejahtera, dan bahagia. Dalam waktu yang singkat mereka berkembang biak dan menjadi suku yang terbesar di antara suku-suku yang hidup di sekelilingnya.

Sebagaimana dengan kaum Nabi Nuh, kaum Hud yaitu suku Aad ini dalam penghidupan rohaninya tidak mengenal Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta alam semesta. Mereka membuat patung-patung yang diberi nama “Shamud” dan “Alhattar”, dan itulah yang disembah sebagai tuhan mereka yang menurut kepercayaan mereka dapat memberi kebahagiaan, kebaikan, dan keuntungan serta dapat menolak kejahatan, kerugian, dan segala musibah. Ajaran dan agama Nabi Idris dan Nabi Nuh sudah tidak berbekas dalam hati, jiwa, serta cara hidup mereka sehari-hari. Kenikmatan hidup yang mereka sedang tenggelam di dalamnya, berkat tanah yang subur dan hasil yang melimpah ruah, menurut anggapan mereka adalah kurniaan dan pemberian kedua berhala yang mereka sembah. Karena itu mereka tidak putus-putus sujud kepada kedua berhala tersebut untuk mensyukurinya sambil memohon perlindungan dari segala bahaya dan musibah berupa penyakit atau kekeringan.

Sebagai akibat dan buah dari akidah yang sesat itu, pergaulan hidup mereka menjadi dikuasai oleh tuntutan dan pimpinan iblis. Nilai-nilai moral dan akhlak tidak lagi menjadi dasar penimbangan dalam kelakuan dan tindak-tanduk seseorang. Kebendaan dan kekuatan lahiriah lebih menonjol sehingga timbul kerusuhan dan tindakan sewenang-wenang di dalam masyarakat. Yang kuat menindas yang lemah, yang besar memperkosa yang kecil, dan yang berkuasa memeras yang berada di bawahnya. Sifat-sifat sombong, congkak, iri hati, dengki, hasut, dan benci-membenci yang didorong oleh hawa nafsu merajalela dan menguasai penghidupan mereka sehingga tidak memberi tempat kepada sifat-sifat belas kasihan, sayang menyayangi, jujur, amanah, dan rendah hati. Demikianlah gambaran masyarakat suku Aad ketika Allah mengutus Nabi Hud sebagai nabi dan rasul kepada mereka.


Nabi Hud Berdakwah di Tengah-Tengah Sukunya

Sudah menjadi sunnah Allah sejak diturunkannya Adam ke bumi bahwa dari masa ke masa, jika hamba-hamba-Nya telah berada dalam kehidupan yang sesat dan sudah jauh menyimpang dari ajaran agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya, maka diutuslah seorang nabi atau rasul yang bertugas untuk menyegarkan kembali ajaran para nabi terdahulu. Ia mengembalikan masyarakat yang sudah tersesat ke jalan lurus dan benar serta mencuci bersih jiwa manusia dari segala tahayul dan syirik, menggantinya dengan iman tauhid dan akidah yang sesuai dengan fitrah.

Demikianlah kepada suku Aad yang telah dimabukkan oleh kesejahteraan hidup dan kenikmatan duniawi sehingga tidak mengenal Tuhannya yang mengurniakan semua itu. Diutus kepada mereka Nabi Hud, seorang dari suku mereka sendiri, dari keluarga yang terpandang dan berpengaruh, terkenal sejak kecil dengan kelakuan yang baik, budi pekerti yang luhur, serta sangat bijaksana dalam pergaulan dengan kawan-kawannya.

Nabi Hud memulai dakwahnya dengan menarik perhatian kaumnya kepada tanda-tanda wujudnya Allah yang berupa alam di sekeliling mereka. Ia menjelaskan bahwa Allahlah yang menciptakan mereka semua dan mengurniakan segala kenikmatan hidup berupa tanah yang subur, air yang mengalir, serta tubuh-tubuh yang tegak dan kuat. Dialah yang seharusnya mereka sembah, bukan patung-patung yang mereka perbuat sendiri. Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia dan tidak sepatutnya merendahkan diri dengan sujud menyembah batu-batu yang sewaktu-waktu dapat mereka hancurkan sendiri.

Diterangkan oleh Nabi Hud bahwa ia adalah pesuruh Allah yang diberi tugas membawa mereka ke jalan yang benar, beriman kepada Allah yang menciptakan mereka, menghidupkan dan mematikan mereka, memberi rezeki atau mencabutnya dari mereka. Ia tidak mengharapkan upah dan tidak menuntut balas jasa atas usahanya memimpin dan menuntun mereka ke jalan yang benar. Ia hanya menjalankan perintah Allah dan memperingatkan bahwa jika mereka tetap menutup telinga dan mata terhadap dakwahnya, mereka akan ditimpa azab dan dibinasakan oleh Allah sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh yang mati tenggelam dalam air bah akibat kesombongan mereka menolak ajaran nabi mereka.

Bagi kaum Aad, seruan Nabi Hud merupakan sesuatu yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka merasa bahwa ajaran yang dibawa Nabi Hud akan mengubah cara hidup mereka dan membongkar peraturan serta adat istiadat yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Mereka tercengang dan merasa hairan bahwa seorang dari suku mereka sendiri berani merombak tata cara hidup mereka dan mengganti agama serta kepercayaan mereka dengan sesuatu yang baru. Dengan serta-merta mereka menolak dakwah Nabi Hud dengan berbagai alasan dan tuduhan kosong, disertai ejekan dan hinaan yang diterima beliau dengan kepala dingin dan penuh kesabaran.

Berkatalah kaum Aad kepada Nabi Hud:

“Wahai Hud! Ajaran dan agama apakah yang engkau hendak anjurkan kepada kami? Engkau ingin agar kami meninggalkan persembahan kepada tuhan-tuhan kami yang berkuasa ini dan menyembah Tuhanmu yang tidak dapat kami jangkau dengan pancaindera kami, Tuhan yang menurut kata kamu tidak bersekutu. Cara persembahan yang kami lakukan ini telah kami warisi dari nenek moyang kami dan tidak sekali-kali kami akan meninggalkannya.”

Nabi Hud menjawab:

“Wahai kaumku! Sesungguhnya Tuhan yang aku serukan agar kamu menyembah-Nya memang tidak dapat kamu jangkau dengan pancaindera, tetapi kamu dapat melihat dan merasakan wujud-Nya dalam dirimu sendiri sebagai ciptaan-Nya dan dalam alam semesta yang mengelilingimu. Beberapa langit dengan matahari, bulan, dan bintang-bintangnya, bumi dengan gunung-gunungnya, sungai-sungai, tumbuh-tumbuhan, dan binatang-binatang yang semuanya bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tuhan itulah yang harus kamu sembah dan tundukkan kepala kepadanya. Tuhan Yang Maha Esa, tiada bersekutu, tidak beranak dan tidak diperanakkan.”

Namun kaum Aad tetap menolak dan berkata bahwa Nabi Hud hanyalah manusia biasa seperti mereka. Mereka bahkan menuduhnya sebagai pendusta atau orang yang telah kehilangan kewarasan akal.

Nabi Hud menjawab dengan tenang bahwa ia bukan pendusta dan pikirannya tetap waras. Ia menegaskan bahwa ia adalah pesuruh Allah yang membawa amanat untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia yang telah tersesat. Ia mengajak kaumnya agar menggunakan akal dan pikiran yang sehat untuk beriman kepada Allah, memohon ampun atas kesalahan mereka, dan kembali kepada jalan yang benar agar terhindar dari azab dunia dan akhirat.

Namun kaum Aad tetap membangkang dan berkata bahwa semua ancaman itu hanyalah ancaman kosong. Mereka bahkan menantang Nabi Hud untuk mendatangkan azab yang dijanjikannya jika memang ia benar.

Nabi Hud menjawab bahwa jika mereka tetap berkeras kepala dan tidak menghiraukan dakwahnya, maka mereka hanya perlu menunggu datangnya pembalasan Tuhan yang tidak dapat mereka hindari.


Pembalasan Allah Atas Kaum Aad

Pembalasan Tuhan terhadap kaum Aad yang kafir dan tetap membangkang itu diturunkan dalam dua peringkat. Tahap pertama berupa kekeringan yang melanda ladang-ladang dan kebun-kebun mereka sehingga menimbulkan kecemasan dan kegelisahan. Nabi Hud masih berusaha meyakinkan mereka bahwa kekeringan itu merupakan permulaan dari azab Allah dan masih merupakan kesempatan bagi mereka untuk bertaubat.

Namun mereka tetap tidak percaya dan bahkan pergi memohon perlindungan kepada berhala-berhala mereka.

Kemudian datanglah pembalasan tahap kedua. Terlihat gumpalan awan hitam tebal di atas mereka. Kaum Aad menyambutnya dengan sorak gembira karena mereka mengira hujan akan turun membasahi ladang dan kebun mereka.

Melihat kegembiraan itu Nabi Hud berkata bahwa awan hitam itu bukanlah awan rahmat, melainkan awan yang membawa kehancuran sebagai pembalasan Allah.

Tidak lama kemudian turunlah angin taufan yang dahsyat disertai bunyi gemuruh yang mengerikan. Angin itu merusakkan rumah-rumah dari dasarnya, menerbangkan perabot dan harta benda, serta melemparkan binatang ternak. Kaum Aad menjadi panik dan berlari mencari perlindungan.

Bencana angin taufan itu berlangsung selama delapan hari tujuh malam hingga membinasakan seluruh kaum Aad yang sombong itu. Mereka musnah dalam keadaan yang menyedihkan dan menjadi pelajaran bagi umat-umat yang datang kemudian.

Adapun Nabi Hud dan para pengikutnya yang beriman mendapat perlindungan Allah dari bencana tersebut. Setelah keadaan kembali tenang dan tanah Al-Ahqaf menjadi sunyi dari kaum Aad, Nabi Hud berhijrah ke Hadramaut dan menghabiskan sisa hidupnya di sana hingga wafat.


Kisah Nabi Hud Dalam Al-Qur’an

Kisah Nabi Hud diceritakan dalam 68 ayat yang tersebar dalam 10 surah, di antaranya Surah Hud ayat 50–60, Surah Al-Mukminun ayat 31–41, Surah Al-Ahqaf ayat 21–26, dan Surah Al-Haaqqah ayat 6–8.


Pengajaran Dari Kisah Nabi Hud A.S.

Nabi Hud memberi contoh yang baik bagi para juru dakwah. Ia menghadapi kaumnya yang sombong dan keras kepala dengan kesabaran, ketabahan, dan kelapangan dada. Ia tidak membalas ejekan dan kata-kata kasar dengan cara yang sama, tetapi menolaknya dengan kata-kata yang halus dan penuh hikmah.

Ketika kaumnya menuduhnya gila dan sinting, Nabi Hud tidak marah dan tidak gusar. Ia hanya menjawab dengan lemah lembut bahwa ia bukan orang gila, dan bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah tidak dapat mengganggu dirinya sedikit pun. Ia menegaskan bahwa dirinya adalah rasul Allah yang menyampaikan nasihat yang jujur demi kebaikan dan keselamatan kaumnya dari azab Allah di dunia dan di akhirat.

Dalam berdialog dengan kaumnya, Nabi Hud selalu berusaha mengetuk hati nurani mereka dan mengajak mereka berpikir secara rasional dengan menggunakan akal dan pikiran yang sehat. Ia memberikan bukti-bukti yang dapat diterima oleh akal tentang kebenaran dakwahnya dan kesesatan jalan mereka. Namun hidayah adalah milik Allah, Dia memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Nabi Zulkifli AS

 


Al-Qur’an tidak mengisahkan riwayat Nabi Dzulkifli dan kepada siapa beliau diutus. Ahli tarikh hanya menyebutkan bahwa beliau adalah putra Nabi Ayyub. Allah SWT menamakan beliau Dzulkifli karena beliau selalu melaksanakan beberapa perbuatan baik yang dibebankan kepadanya.

Di dalam Surah Al-Anbiyaa’ ayat 85–86 dijelaskan:

“Ismail, Idris dan Dzulkifli termasuk orang-orang yang sabar. Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh.”

Sumber:
http://www.dzikir.org/b_ceri14.htm

Nabi Daud A.S

 


Daud bin Yisya adalah salah seorang dari tiga belas bersaudara, turunan dari Nabi Ibrahim a.s. Ia tinggal bermukim di kota Baitlehem, kota kelahiran Nabi Isa a.s., bersama ayah dan saudara-saudaranya.


Daud dan Raja Thalout

Ketika Raja Thalout, raja Bani Isra’il, mengerahkan rakyatnya untuk memasuki tentera dan menyusun pasukan guna berperang melawan bangsa Palestin, Daud bersama dua orang kakaknya diperintahkan oleh ayahnya untuk turut berjuang dan bergabung dengan pasukan tersebut.

Khusus kepada Daud sebagai anak yang termuda di antara mereka, ayahnya berpesan agar ia berada di barisan belakang dan tidak ikut bertempur. Ia hanya ditugaskan melayani kedua kakaknya yang berada di barisan depan, membawakan makanan, minuman, dan keperluan lain bagi mereka. Selain itu, ia juga diminta sesekali memberikan laporan kepada ayahnya mengenai keadaan peperangan dan keadaan kedua kakaknya di medan perang.

Namun ketika pasukan Bani Isra’il yang dipimpin oleh Thalout berhadapan dengan pasukan Jalout dari bangsa Palestin, Daud lupa akan pesan ayahnya. Ia mendengar suara Jalout yang nyaring dengan penuh kesombongan menantang untuk berperang, sementara para pejuang Bani Isra’il berdiam diri diliputi rasa takut. Daud kemudian secara spontan menawarkan diri untuk menghadapi Jalout.

Terjadilah pertempuran antara mereka berdua yang berakhir dengan terbunuhnya Jalout oleh Daud.

Sebagai balasan atas jasanya itu, Raja Thalout menjadikan Daud sebagai menantunya dan mengahwinkannya dengan puterinya yang bernama Mikyal, sesuai dengan janji yang telah diumumkan kepada pasukannya bahwa puterinya akan dikahwinkan dengan orang yang mampu mengalahkan Jalout. Selain itu, Daud juga diangkat sebagai penasihat dan orang kepercayaan raja.

Daud disayangi, disanjung, dan dihormati bukan hanya oleh mertuanya tetapi juga oleh seluruh rakyat Bani Isra’il yang melihatnya sebagai pahlawan bangsa.

Namun suasana keakraban itu tidak berlangsung lama. Pada suatu waktu Daud merasakan perubahan sikap dari mertuanya. Wajah yang dahulu ramah kini tampak muram. Kata-kata yang dahulu lembut kini terdengar keras.

Daud bertanya kepada dirinya sendiri apa yang menyebabkan perubahan tersebut. Ia mencoba menenangkan dirinya dan menganggap bahwa mungkin itu hanya prasangka semata.

Pada suatu malam ketika berada di tempat tidur bersama isterinya Mikyal, Daud berkata:

“Wahai Mikyal, entah benar atau salah tanggapanku, tetapi aku merasa ada perubahan dalam sikap ayahmu terhadap diriku.”

Mikyal menjawab sambil menghela napas panjang dan mengusap air mata yang jatuh di pipinya:

“Wahai Daud, aku tidak akan menyembunyikan sesuatu darimu. Ayahku merasa iri melihat namamu semakin terkenal di kalangan rakyat. Ia khuatir pengaruhmu akan melemahkan kekuasaannya.”

Ia juga memberitahu bahwa ayahnya sedang merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Daud.

Keesokan harinya seorang pesuruh raja memanggil Daud menghadap. Raja Thalout berkata bahwa bangsa Kan’aan sedang menyusun kekuatan untuk menyerang, dan Daud diminta memimpin pasukan untuk menyerang lebih dahulu.

Raja berharap Daud tidak akan kembali dari peperangan itu.

Namun dengan bertawakal kepada Allah, Daud berangkat bersama pasukannya dan akhirnya kembali dengan kemenangan besar.

Kemenangan tersebut justru membuat kebencian Thalout semakin besar.

Ia kemudian merencanakan pembunuhan terhadap Daud secara rahsia. Mikyal yang mengetahui rencana itu segera memperingatkan Daud agar meninggalkan kota.

Maka pada malam yang gelap Daud meninggalkan kota dengan hanya membawa iman dan kepercayaan kepada pertolongan Allah.


Daud Dinobatkan Sebagai Raja

Setelah Daud meninggalkan kota, banyak saudara dan pengikutnya yang menyusul untuk bergabung dengannya.

Sementara itu pengaruh Raja Thalout semakin merosot di mata rakyat. Ia bahkan mulai membunuh orang-orang yang diragukan kesetiaannya.

Thalout kemudian memutuskan mengejar Daud.

Pada suatu ketika Daud mengetahui bahwa Thalout dan pasukannya sedang tertidur di sebuah lembah dekat tempat persembunyiannya. Para pengikut Daud menyarankan agar memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang.

Namun Daud menolak dan hanya menggunting sudut pakaian Thalout sebagai peringatan.

Ketika Thalout bangun, Daud menunjukkan potongan pakaian tersebut dan berkata bahwa ia sebenarnya dapat membunuhnya, namun memilih tidak melakukannya.

Thalout merasa malu dan mengakui bahwa Daud lebih baik darinya.

Namun ia masih belum berubah sepenuhnya dan kembali mengejar Daud.

Pada kesempatan kedua, Daud berhasil mengambil anak panah dan kendi air milik Thalout ketika ia sedang tidur, lalu menunjukkan kepada pasukannya bahwa nyawa raja mereka sebenarnya dapat diambil kapan saja jika Allah menghendaki.

Peristiwa ini akhirnya menyadarkan Thalout. Ia menyesali perbuatannya dan memutuskan meninggalkan kerajaan serta hidup mengembara.

Setelah Thalout pergi, rakyat Bani Isra’il kemudian menobatkan Daud sebagai raja.


Nabi Daud Mendapat Godaan

Sebagai raja, Daud membagi waktunya dengan teratur antara ibadah, urusan pemerintahan, peradilan, dan kehidupan pribadinya.

Pada suatu hari ketika ia sedang beribadah dan tidak menerima tamu, dua orang lelaki tiba-tiba masuk ke dalam istana dengan memanjat pagar.

Mereka datang untuk meminta keputusan dalam sebuah sengketa.

Salah seorang berkata bahwa saudaranya memiliki sembilan puluh sembilan ekor domba, sedangkan ia hanya memiliki satu ekor. Saudaranya menuntut agar domba yang satu itu juga diberikan kepadanya.

Daud segera memutuskan bahwa tuntutan tersebut adalah perbuatan zalim.

Namun lelaki itu kemudian berkata bahwa sebenarnya Daud sendirilah yang seharusnya menerima teguran itu.

Saat itu juga kedua lelaki tersebut menghilang dari pandangan.

Daud kemudian menyadari bahwa mereka adalah malaikat yang diutus oleh Allah untuk memberinya peringatan.

Daud segera bersujud memohon ampun kepada Allah, dan Allah menerima taubatnya.


Hari Sabtunya Bani Isra’il

Dalam ajaran Nabi Musa a.s., Bani Isra’il diwajibkan mengkhususkan satu hari dalam seminggu untuk beribadah kepada Allah. Hari tersebut adalah hari Sabtu.

Pada hari itu mereka dilarang berdagang dan melakukan urusan dunia.

Di sebuah desa bernama Ailat di tepi Laut Merah, banyak penduduk yang bekerja sebagai nelayan.

Pada hari Sabtu ikan-ikan muncul dalam jumlah yang sangat banyak di permukaan laut. Sebagian nelayan kemudian melanggar larangan dan menangkap ikan pada hari tersebut.

Para pemuka agama menegur mereka, tetapi mereka tetap membangkang.

Akhirnya Nabi Daud berdoa kepada Allah agar mereka diberi balasan atas perbuatan mereka.

Doa itu dikabulkan dan terjadilah gempa bumi dahsyat yang membinasakan orang-orang yang membangkang, sementara orang-orang beriman diselamatkan.


Beberapa Kurniaan Allah kepada Nabi Daud

  • Allah mengutusnya sebagai nabi dan rasul serta memberinya ilmu, kebijaksanaan, dan kemampuan menyelesaikan perselisihan.
  • Kepadanya diturunkan kitab Zabur yang berisi pujian dan tasbih kepada Allah.
  • Gunung-gunung diperintahkan untuk bertasbih bersama Nabi Daud pada pagi dan petang hari.
  • Burung-burung juga turut bertasbih mengikuti tasbih Nabi Daud.
  • Nabi Daud diberi kemampuan memahami bahasa burung.
  • Allah memberikan kemampuan melunakkan besi sehingga ia dapat membuat baju besi tanpa api.
  • Nabi Daud diberi kekuasaan memimpin kerajaan yang kuat.
  • Nabi Daud dikurniakan suara yang sangat merdu sehingga menjadi perumpamaan bagi suara yang indah.

Beberapa Pelajaran dari Kisah Nabi Daud A.S.

  • Kekuatan jasmani semata tidak menentukan kemenangan. Orang yang lemah dapat mengalahkan yang kuat dengan pertolongan Allah.
  • Orang yang lemah dan miskin tidak boleh berputus asa selama ia bersandar kepada iman dan takwa.
  • Kemenangan tidak menjadikan Nabi Daud sombong, bahkan ia tetap rendah hati terhadap kawan maupun lawan.

Sumber:
http://www.dzikir.org/b_ceri16.html

Nabi Ayyub a.s

 


Berkata salah seorang malaikat kepada kawan-kawannya yang lagi berkumpul berbincang-bincang tentang tingkah laku makhluk Allah, jenis manusia di atas bumi:

“Aku tidak melihat seorang manusia yang hidup di atas bumi Allah yang lebih baik dari hamba Allah Ayyub.”

Ia adalah seorang mukmin sejati, ahli ibadah yang tekun. Dari rezeki yang luas dan harta kekayaan yang diberikan oleh Allah kepadanya, ia mengenepikan sebahagian untuk menolong orang-orang yang memerlukan, para fakir miskin. Hari-harinya terisi penuh dengan ibadah, sujud kepada Allah dan bersyukur atas segala nikmat dan kurnia yang diberikan kepadanya.

Para kawanan malaikat yang mendengarkan kata-kata pujian dan sanjungan untuk diri Ayyub mengakui kebenaran itu. Bahkan masing-masing menambahkan lagi dengan menyebut beberapa sifat dan tabiat yang lain yang ada pada diri Ayyub.

Percakapan para malaikat yang memuji-muji Ayyub itu didengar oleh Iblis yang sedang berada tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Iblis merasa panas hati dan jengkel mendengar kata-kata pujian bagi seseorang dari keturunan Adam yang telah ia bersumpah akan disesatkan ketika ia dikeluarkan dari syurga kerananya. Ia tidak rela melihat seorang dari anak cucu Nabi Adam menjadi seorang mukmin yang baik, ahli ibadah yang tekun dan melakukan amal soleh sesuai dengan perintah dan petunjuk Allah.

Pergilah Iblis mendatangi Ayyub untuk menyatakan sendiri sampai sejauh mana kebenaran kata-kata pujian para malaikat itu kepada diri Ayyub. Ternyata memang benar Ayyub patut mendapat segala pujian itu. Ia mendapati Ayyub bergelimpangan dalam kenikmatan duniawi, tenggelam dalam kekayaan yang tidak ternilai besarnya, mengepalai keluarga yang besar yang hidup rukun, damai dan bakti.

Ia mendapati Ayyub tidak tersilau matanya oleh kekayaan yang ia miliki dan tidak tergoyahkan imannya oleh kenikmatan duniawinya. Siang dan malam ia sentiasa menemui Ayyub berada di mihrabnya melakukan solat, sujud dan tasyakur kepada Allah atas segala pemberian-Nya. Mulutnya tidak berhenti menyebut nama Allah, berzikir, bertasbih dan bertahmid.

Ayyub ditemuinya sebagai seorang yang penuh kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah yang lemah. Yang lapar diberinya makan, yang telanjang diberinya pakaian, yang bodoh diajar dan dipimpin, dan yang salah ditegur.

Iblis gagal dalam usahanya memujuk Ayyub. Telinga Ayyub pekak terhadap segala bisikannya dan fitnahannya. Hatinya yang sudah penuh dengan iman dan takwa tidak ada tempat lagi bagi bibit-bibit kesesatan yang ditaburkan oleh Iblis. Cinta dan taatnya kepada Allah merupakan benteng yang ampuh terhadap serangan Iblis dengan peluru kebohongan dan pemutarbalikan kebenaran yang semuanya mental dan tidak mendapatkan sasaran pada diri Ayyub.

Akan tetapi Iblis bukanlah Iblis jika ia berputus asa atas kegagalannya memujuk Ayyub secara langsung. Ia pergi menghadap kepada Allah untuk menghasut.

Ia berkata:

“Wahai Tuhan, sesungguhnya Ayyub yang menyembah dan memuji-muji-Mu, bertasbih dan bertahmid menyebut nama-Mu, ia tidak berbuat demikian seikhlas dan setulus hatinya kerana cinta dan taat pada-Mu. Ia melakukan itu semua hanya kerana takut akan kehilangan semua kenikmatan duniawi yang telah Engkau kurniakan kepadanya. Ia takut jika Engkau mencabut daripadanya segala nikmat yang telah ia perolehi berupa puluhan ribu haiwan ternakan, beribu-ribu hektar tanah ladang, berpuluh-puluh hamba sahaya dan pembantu serta keluarga dan putera-puteri yang soleh dan bakti.”

Allah berfirman kepada Iblis:

“Sesungguhnya Ayyub adalah seorang hamba-Ku yang sangat taat kepada-Ku. Ia seorang mukmin sejati. Apa yang ia lakukan untuk mendekatkan dirinya kepada-Ku semata-mata didorong oleh iman yang teguh dan taat yang bulat kepada-Ku. Iman dan takwa yang telah meresap di dalam lubuk hatinya serta menguasai seluruh jiwa raganya tidak akan tergoyah oleh perubahan keadaan duniawinya.”

Allah kemudian mengizinkan Iblis untuk mencuba menggoda Ayyub melalui harta kekayaannya dan keluarganya.

Dikumpulkanlah oleh Iblis syaitan-syaitan pembantunya. Ia memberitahukan bahawa ia telah mendapatkan izin untuk mengganyang Ayyub, merusak aqidah dan imannya serta memalingkannya dari Tuhannya. Jalannya ialah dengan memusnahkan harta kekayaannya sehingga ia menjadi seorang yang papa dan miskin, serta mencerai-beraikan keluarganya.

Dengan berbagai cara gangguan, akhirnya berhasillah kawanan syaitan itu menghancurkan kekayaan Ayyub. Haiwan-haiwan ternakannya mati satu persatu hingga habis sama sekali. Ladang-ladang dan kebun-kebunnya menjadi kering. Gedung-gedungnya terbakar habis dimakan api.

Dalam waktu yang sangat singkat sekali Ayyub yang kaya-raya menjadi seorang papa miskin. Ia tidak memiliki apa-apa selain hatinya yang penuh iman dan takwa serta jiwanya yang besar.

Setelah itu Iblis datang kepadanya menyerupai seorang tua yang tampak bijaksana. Ia berkata bahawa musibah yang menimpa Ayyub sangat dahsyat, sehingga semua kekayaannya habis dalam waktu singkat.

Namun wajah Ayyub tetap tenang. Ia berkata:

“Ketahuilah bahawa apa yang aku miliki berupa harta benda, gedung-gedung, tanah ladang dan haiwan ternakan semuanya adalah titipan Allah. Jika Dia mengambilnya kembali maka segala puji bagi-Nya. Dialah yang Maha Kuasa mengangkat darjat seseorang atau menurunkannya menurut kehendak-Nya.”

Setelah berkata demikian, Ayyub bersujud kepada Allah memohon ampun serta keteguhan iman dan kesabaran atas segala ujian.

Iblis kembali kecewa dan merencanakan gangguan melalui keluarganya. Dengan izin Allah, gedung tempat putera-putera Ayyub berkumpul digoncangkan sehingga roboh dan menimpa mereka semua.

Ketika mendengar berita itu Ayyub menangis dan berkata:

“Allahlah yang memberi dan Dia pulalah yang mengambil kembali. Segala puji bagi-Nya.”

Iblis kembali meminta izin untuk mencuba Ayyub melalui penyakit. Maka ditaburkanlah bibit penyakit ke dalam tubuh Ayyub. Ia menderita demam, batuk dan berbagai penyakit kulit. Badannya semakin kurus dan lemah. Orang-orang menjauhinya kerana khuatir tertular penyakitnya.

Hanya isterinya yang tetap setia merawatnya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Namun Ayyub tetap berzikir dan beribadah kepada Allah. Ia tidak mengeluh dan tidak mengadu selain kepada Allah.

Iblis kemudian berusaha menghasut isterinya. Ia mengingatkan masa-masa bahagia mereka dahulu. Isteri Ayyub pun datang kepada suaminya dan berkata:

“Wahai suamiku, sampai bilakah engkau terseksa oleh Tuhanmu ini? Mohonlah kepada-Nya agar kita dibebaskan dari penderitaan ini.”

Ayyub menjawab:

“Berapa lama kita hidup dalam kemewahan dahulu?”

“Lapan puluh tahun,” jawab isterinya.

“Dan berapa lama kita menderita?”

“Tujuh tahun.”

Ayyub berkata:

“Aku malu memohon kepada Allah untuk menghilangkan penderitaan yang belum sepanjang masa nikmat yang telah Dia berikan kepada kita.”

Setelah itu ia berdoa kepada Allah:

“Wahai Tuhanku, aku telah diganggu oleh syaitan dengan kepayahan dan kesusahan. Engkaulah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Allah menerima doa Nabi Ayyub. Ia diperintahkan menghentakkan kakinya ke tanah. Dari situ memancarlah air yang digunakan untuk mandi dan minum sehingga sembuhlah seluruh penyakitnya.

Tubuhnya kembali sihat dan kuat.

Isterinya yang datang kemudian hampir tidak mengenalinya kerana Ayyub kembali muda dan segar. Ia pun memeluk suaminya sambil bersyukur kepada Allah.

Nabi Ayyub pernah bersumpah akan mencambuk isterinya seratus kali. Namun Allah memberi jalan keluar dengan memerintahkannya mengambil seikat rumput dan memukulnya seratus kali dengannya.

Dengan demikian sumpahnya terlaksana tanpa menyakiti isterinya yang setia.

Allah kemudian mengembalikan semua nikmat kepada Nabi Ayyub. Kekayaannya kembali bahkan berlipat ganda, dan kepadanya dikurniakan lagi anak-anak sebagai pengganti yang telah wafat.

Nabi Ayyub menjadi teladan kesabaran dan keteguhan iman bagi manusia. Namanya disebut sebagai simbol kesabaran.

Kisah Nabi Ayyub disebut dalam Al-Qur’an pada Surah Shaad ayat 41–44 serta Surah Al-Anbiyaa’ ayat 83–84.

Sumber: http://www.dzikir.org/b_ceri13.html

Nabi Adam a.s.

 


Setelah Allah s.w.t. menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya, laut-lautannya dan tumbuh-tumbuhannya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan, menciptakan malaikat-malaikat-Nya, yaitu sejenis makhluk halus yang diciptakan untuk beribadah dan menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba-Nya, terutama para rasul dan nabi-Nya, maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi, memeliharanya, menikmati tumbuh-tumbuhannya, mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun, waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.

Kekhawatiran Para Malaikat

Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu, mereka khawatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu disebabkan kecuaian atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas, atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari.

Berkata mereka kepada Allah s.w.t.:

“Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami, padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya, sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu niscaya akan bertengkar satu dengan lain, akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat di atasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu.”

Allah berfirman menghilangkan kekhawatiran para malaikat itu:

“Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepadanya, bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, karena Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya.”

Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.t. dari segumpal tanah liat kering dan lumpur hitam yang berbentuk. Setelah disempurnakan bentuknya, ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.

Iblis Membangkang

Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya.

Iblis merasa dirinya lebih mulia, lebih utama dan lebih agung dari Adam karena ia diciptakan dari unsur api, sedangkan Adam dari tanah dan lumpur. Kebanggaannya dengan asal-usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain, walaupun diperintah oleh Allah.

Tuhan bertanya kepada Iblis:

“Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?”

Iblis menjawab:

“Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia. Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur.”

Karena kesombongan, kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan, maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga hari kiamat. Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.

Iblis dengan sombongnya menerima hukuman Tuhan itu dan ia hanya memohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat. Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan.

Namun ia tidak berterima kasih dan tidak bersyukur atas pemberian jaminan itu. Bahkan ia mengancam akan menyesatkan Adam sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat. Ia berjanji akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala arah untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersama dengannya menempuh jalan yang sesat, mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang, menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan tidak beramal saleh.

Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:

“Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka. Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada-Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki akidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah.”

Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda

Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan meyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi. Maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta.

Kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya berfirman:

“Cobalah sebutkan bagi-Ku nama benda-benda itu jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam.”

Para malaikat tidak berdaya memenuhi tantangan Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka. Mereka mengakui ketidakmampuan mereka dengan berkata:

“Maha Suci Engkau. Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.”

Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat. Setelah diberitahukan oleh Adam, berfirmanlah Allah kepada mereka:

“Bukankah Aku telah katakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”

Adam Menghuni Syurga

Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya, menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan.

Menurut cerita para ulama, Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang di sebelah kiri ketika ia masih tidur. Ketika ia terjaga, ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya.

Ia ditanya oleh malaikat:

“Wahai Adam, apakah dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?”

Berkatalah Adam:

“Seorang perempuan.”

Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya.

“Siapa namanya?” tanya malaikat lagi.

“Hawa,” jawab Adam.

“Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?” tanya malaikat lagi.

Adam menjawab:

“Untuk mendampingiku, memberi kebahagiaan bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah.”

Allah berpesan kepada Adam:

“Tinggallah engkau bersama istrimu di syurga. Rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah di dalamnya. Rasakanlah dan makanlah buah-buahan yang lezat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nafsumu. Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar, dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.

Akan tetapi Aku ingatkan, janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim. Ketahuilah bahwa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh istrimu. Ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmati ini.”

Iblis Mulai Beraksi

Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh Allah dari syurga akibat pembangkangannya, dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya serta tersingkir dari kedudukannya, Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.

Ia menyatakan kepada mereka bahwa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat serta petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka. Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahwa ia benar-benar jujur dalam nasihat dan petunjuknya.

Ia membisikkan kepada mereka bahwa larangan Tuhan kepada mereka memakan buah yang ditunjuk itu adalah karena dengan memakan buah itu mereka akan menjadi malaikat dan akan hidup kekal.

Diulang-ulanglah bujukannya dengan menunjukkan harum bau pohon yang dilarang, indah bentuk buahnya dan lezat rasanya. Hingga pada akhirnya termakanlah bujukan halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan Tuhan.

Allah mencela perbuatan mereka itu dan berfirman yang bermaksud:

“Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya, dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahwa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata.”

Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu dan sadarlah mereka bahwa mereka telah melanggar perintah Allah dan melakukan suatu kesalahan serta dosa besar.

Seraya menyesal berkatalah mereka:

“Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu karena terkena bujukan Iblis. Ampunilah dosa kami, karena niscaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami.”

Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi

Allah telah menerima taubat Adam dan Hawa serta mengampuni pelanggaran yang mereka lakukan. Hal itu melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian mereka terhadap peringatan Tuhan tentang Iblis sehingga terjerumus menjadi mangsa bujukan dan rayuannya.

Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan Allah. Selanjutnya mereka bertekad untuk lebih berhati-hati agar tidak tertipu lagi oleh Iblis.

Namun Allah telah menentukan dalam takdir-Nya bahwa bumi yang penuh dengan kekayaan untuk dikelola akan dikuasai oleh manusia keturunan Adam.

Allah s.w.t. memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hamba-Nya yang bernama manusia.

Berfirmanlah Allah kepada mereka:

“Turunlah kamu ke bumi. Sebagian daripada kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Kamu dapat tinggal tetap dan hidup di sana sampai waktu yang telah ditentukan.”

Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berbeda dengan kehidupan di syurga yang pernah mereka alami dan yang tidak akan terulang kembali.

Mereka harus menempuh kehidupan di dunia dengan suka dan dukanya serta menurunkan umat manusia yang beraneka ragam sifat dan tabiatnya, berbeda-beda warna kulit dan kecerdasan otaknya.

Umat manusia itu akan berkelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa. Di antara mereka ada yang saling bermusuhan, saling menindas dan saling berbuat aniaya. Karena itu dari waktu ke waktu Allah mengutus nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya untuk memimpin manusia ke jalan yang lurus, jalan yang penuh kedamaian dan kasih sayang, jalan yang menuju kepada keridaan-Nya serta kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

Kisah Adam dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menceritakan kisah Adam dalam beberapa surah, di antaranya Surah Al-Baqarah ayat 30 sampai ayat 38 dan Surah Al-A’raf ayat 11 sampai ayat 25.

Pengajaran Yang Terdapat Dari Kisah Adam

Bahwasanya hikmah yang terkandung dalam perintah dan larangan Allah serta dalam apa yang diciptakan-Nya kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oleh akal manusia, bahkan oleh makhluk-Nya yang terdekat. Hal ini sebagaimana telah dialami oleh para malaikat ketika diberitahu bahwa Allah akan menciptakan manusia keturunan Adam untuk menjadi khalifah di bumi.

Bahwasanya manusia walaupun telah dikaruniai kecerdasan berpikir serta kekuatan fisik dan mental, tetap memiliki beberapa kelemahan seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal ini terjadi pada diri Nabi Adam yang walaupun telah menjadi manusia yang sempurna dan diberi kedudukan yang istimewa di syurga, tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusia tersebut.

Ia lupa dan melalaikan peringatan Allah tentang pohon terlarang serta tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya sehingga terperangkap dalam tipu daya dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.

Bahwasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa tidak sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Tuhan selama ia menyadari kesalahannya dan bertaubat serta tidak mengulanginya kembali.

Rahmat Allah dan maghfirah-Nya dapat mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik, betapapun besar dosa itu, selama diikuti dengan kesadaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.

Sifat sombong dan congkak selalu membawa akibat kerugian dan kebinasaan. Lihatlah Iblis yang turun dari kedudukannya, dilucutkan martabatnya dan diusir oleh Allah dari syurga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepadanya hingga hari kiamat karena kesombongannya dan kebanggaannya terhadap asal-usulnya sehingga ia memandang rendah Nabi Adam dan menolak untuk bersujud menghormatinya walaupun diperintahkan oleh Allah s.w.t.

Sumber: http://www.dzikir.org/b_ceri01.html

Ketika Hati Berdesir-desir

 



Tak terasa sudah memasuki pertengahan September. Suhu musim panas mulai turun. Paling tinggi 32 derajat Celcius. Bulan Oktober nanti adalah bulan peralihan dari musim panas ke musim dingin. Si Musthafa Fathullah Said, teman Mesir satu kelas di pascasarjana yang juga sedang mengajukan proposal tesis, memberitahukan bahwa dua hari lagi aku harus ke kampus untuk ujian proposal tesis yang kuajukan. Aku terfokus pada ujian yang sangat menentukan itu. Jika proposalku ditolak maka aku harus menunggu setengah tahun lagi untuk mengajukan proposal baru.

As you sow, so will you reap! Demikian pepatah Inggris mengatakan. Seperti apa yang anda tanam, sebegitu itulah yang akan anda petik. Rasanya tidak sia-sia apa yang telah kukerjakan selama ini. Membuat jadwal ketat, bolak-balik ke National Library, ke perpustakaan IIIT di Zamalek, dan mengumpulkan bahan. Membaca literatur-literatur klasik berkaitan Ilmu Quran, berdiskusi dengan teman-teman pascasarjana. Kerja yang melelahkan. Mengantuk. Pusing. Mual. Kurang tidur. Semuanya terasa bagaikan simfoni hidup yang indah setelah tim penilai yang terdiri para guru besar menerima proposal tesis yang aku ajukan.

Aku jadi menulis tentang “Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.” Aku memang pengagum ulama terbesar Turki abad ke-20 itu. Dia termasuk tokoh dunia Islam yang menurut Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi layak disebut mujaddid umat Islam abad ke-20 di samping Hasan Al-Banna.

Pembimbingku juga telah ditentukan yaitu Syaikh Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far. Aku seperti mendapat durian runtuh sebab beliau memang profesor idolaku. Terkenal paling mudah ditemui dan paling senang dengan mahasiswa dari Asia Tenggara. Aku belum dikenal oleh beliau, tapi aku akan berusaha menjadi muridnya yang baik sehingga beliau akan mengenalku dengan baik sebagaimana Syaikh Utsman mengenalku.

Dan sebagai rasa syukur aku harus kembali memeras otak dan bekerja keras untuk menyelesaikan tesis ini. Pekerjaan yang tidak ringan, sebab aku juga harus menerjemah. Tanpa menerjemah dari mana sumber penghidupan akan aku dapatkan.

Aku kembali menata peta hidup dua tahun ke depan. Aku teliti dan aku kalkulasi dengan seksama. Target-target dan cara pencapaiannya. Ada satu target yang masih mengganjal. Yaitu menikah. Aku mentargetkan saat menulis tesis aku harus menikah. Umurku sudah 26 tahun menginjak 27.

Aku mengkalkulasi kemampuan mencari dana setiap bulan. Sebelum menulis tesis aku sanggup merampungkan buku setebal 200–300 halaman setiap bulan. Itu berarti aku akan mendapat masukan sekitar 250 dolar per bulan. Dan aku hanya bisa menyisakan 100 dolar dan terkadang malah cuma 50 dolar. Setiap kali masuk toko buku aku tidak bisa menahan diri untuk membeli buku atau kitab.

Ketika konsentrasiku terpusat pada menulis tesis maka kemampuanku menerjemah akan berkurang. Mungkin aku hanya akan mampu menerjemah 150–200 halaman saja per bulan. Uang yang aku terima dari bayaran menerjemah hanya cukup untuk memenuhi biaya sehari-hari.

Bagaimana? Apakah akan tetap nekat menikah?

Tunggu dulu. Bang Aziz yang mengais nafkah dengan membuat tempe dan mendistribusikannya ke rumah-rumah mahasiswa itu berani menikah. Bang Aziz bercerita dengan pemasukan 150 dolar per bulan sudah berani menikah. Hidup sederhana dan menyewa rumah sederhana di kawasan Hayyu Thamin, atau jauh di Zahra sana.

Apalagi jika mencari istri mahasiswi yang kebetulan dapat beasiswa. Meskipun beasiswa tak seberapa tapi sangat membantu karena datangnya tetap.

Akhirnya kupikir dengan matang, bahwa umur tidak bisa dihargai dengan materi. Jika menemukan perempuan shalihah dan mau menerima diriku seutuhnya dan siap hidup berjuang bersama, dalam suka dan duka, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyempurnakan separuh agama.

Kutatapkan tahun ini bisa menikah, tapi tidak mencari.

Lho bagaimana?

Siapa tahu ada yang menawari.

Kalau sampai selesai magister tidak ada yang menawari ya berarti memang nasibku tidak menikah di Cairo dengan mahasiswi Al-Azhar. Mungkin nasibku adalah menikah di Indonesia, dengan seorang akhwat berjilbab yang ghirah keislamannya bagus, yang ada di UI, atau di UGM, atau di UNDIP, atau di UNS.

Atau malah gadis dari pesantren yang masih sangat suci. Atau, tak tahunya anak tetangga sendiri, teman gebyuran di sungai waktu kecil. Jadi tidak asing lagi, sejak kecil sudah sama-sama tahu.

Aku jadi teringat puisiku sendiri, yang kutulis jelek sekali di buku harian suatu malam di musim semi setahun yang lalu:

Bidadariku

Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku

Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku

Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku

Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku

Namun kau hidup mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku

Sebab kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan untukku

Bidadariku.

Seorang perempuan shalihah yang akan jadi bidadariku, yang akan aku cintai sepenuh hati dalam hidup dan mati, yang akan aku harapkan jadi teman perjuangan merenda masa depan dan menapaki jalan Ilahi, itu siapa?

Aku tak tahu.

Ia masih berada dalam alam ghaib yang belum dibukakan oleh Tuhan untukku. Jika waktunya tiba semuanya akan terang. Hadiah agung dari Tuhan itu akan datang.


Di layar TV Channel 2 ada pengumuman nama-nama orang hilang, lengkap dengan data singkat, ciri-ciri, dan fotonya. Nama yang terakhir ditampilkan adalah Noura binti Bahadur Gonzouri, lengkap dengan fotonya.

Saat itu pukul setengah sepuluh malam.

Kami satu rumah kaget.

Si Muka Dingin Bahadur rupanya masih mencari Noura untuk ia jual kepada serigala-serigala berwajah manusia. Kami satu rumah cemas jika urusannya akan sampai kepada polisi dan menyeret Syaikh Ahmad.

Jika Si Muka Dingin Bahadur punya hubungan dengan seorang pembesar di bagian intelijen keamanan negara urusannya benar-benar bisa merepotkan.

Saat itu juga aku menelpon Syaikh Ahmad.

Beliau minta aku tenang saja dan tidak usah khawatir. Noura sedang berada di pintu gerbang kemerdekaan dan kebahagiaannya. Besok pagi setelah shalat Subuh beliau akan menjelaskan semuanya.

Usai shalat Subuh, Syaikh Ahmad menjelaskan kepadaku bahwa masalah Noura sedang ditangani diam-diam oleh Ridha Shahata, saudara sepupunya yang bertugas di bagian intelijen keamanan negara.

Ridha Shahata menemukan informasi berharga bahwa Noura dilahirkan di sebuah rumah sakit elite di kawasan elite Heliopolis. Pada minggu yang sama Noura dilahirkan hanya ada lima bayi. Dan pada hari yang sama Noura lahir cuma ada dua bayi di sana. Yaitu dia dan bayi satunya bernama Nadia.

Setelah dilacak, Nadia kini tinggal di Heliopolis. Ayah dan ibunya dosen di Universitas Ains Syams. Yang sedikit aneh Nadia berkulit hitam sementara ayah dan ibunya berkulit putih.

Kolonel Ridha Shahata sedang menyiapkan surat pemanggilan untuk tes DNA pada Si Muka Dingin Bahadur dan isterinya. Juga pada Nadia dan kedua orang tuanya. Sebab memang sangat mencurigakan dua bayi itu tertukar.

Jika benar tertukar nanti akan dicari siapa saja perawat yang bertugas waktu itu. Tertukarnya sengaja atau tidak. Tes DNA itulah yang akan jadi bukti kuat kejelasan kasus Noura.

Namun seandainya tidak terbukti ada pertukaran bayi, Noura akan tetap dilindungi. Kolonel Ridha Shahata juga telah menyiapkan bukti untuk menyeret Si Muka Dingin Bahadur ke penjara.

Kolonel Ridha Shahata adalah intelijen yang sangat profesional. Dia pernah menangkap seorang turis Spanyol yang ternyata adalah mata-mata Mossad.

Syaikh Ahmad meminta saya tenang.

Wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja.

Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan untuknya jalan keluar.

Aku lega.

Begitu sampai di rumah, aku mendapat telepon dari Nurul. Ia rupanya juga melihat tayangan nama orang hilang tadi malam. Ia cemas kalau Noura tertangkap dan urusannya melebar.

Aku lalu menjelaskan apa yang dijelaskan Syaikh Ahmad kepadaku. Nurul merasa lega.

Sebelum mengakhiri pembicaraannya dia bertanya apakah aku sudah ke tempatnya Ustadz Jalal. Kubilang sejak sakit aku belum ke mana-mana. Aku minta pada Nurul agar menyampaikan pada Ustadz Jalal permohonan maafku belum bisa ke sana.

Dan aku titip pesan seandainya beliau ada waktu supaya menghubungi aku langsung. Biar aku tahu sebenarnya beliau mau minta tolong apa.

Aku juga menjelaskan pada Nurul saat ini sudah konsentrasi menulis tesis. Alhamdulillah judul tesisnya sudah diterima. Nurul menyatakan rasa gembira dan senangnya.


Aku teringat ini hari Ahad. Sudah lama aku tidak mengaji pada Syaikh Utsman. Aku benar-benar rindu pada beliau.

Ramalan cuaca siang ini Cairo tidak terlalu panas. Hanya 30 derajat Celcius.

Aku berangkat setengah sebelas. Aku ingin shalat Zhuhur di Shubra.

Baru keluar sampai di halaman apartemen, aku dicegah oleh Maria dari atas, dari jendelanya. Dia minta agar aku tidak pergi dulu, di rumah dulu. Aku heran apa haknya melarang aku.

Aku jelaskan padanya aku harus belajar qiraah sab’ah.

Akhirnya dia menyuruh adiknya, Si Yousef, untuk mengantar aku ke tempat aku ngaji.

Aku merasa heran dengan diri sendiri. Keluarga Tuan Boutros begitu baik dan besar perhatiannya kepada kami.

Hari itu Yousef mengantar aku sampai di depan Masjid Abu Bakar Shiddiq, Shubra. Ia juga berjanji akan menjemputku pukul setengah lima sore. Aku mengucapkan terima kasih padanya.

Syaikh Utsman dan teman-teman menyambutku dengan penuh kehangatan. Kami mempraktikkan qiraah Imam Warasy dengan membaca surat Al-Mujadilah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaf, dan Al-Jumu’ah.

Selesai mengaji Syaikh Utsman mengajakku masuk ke kamar beliau yang khusus disediakan oleh takmir masjid. Beliau ingin berbicara masalah khusus.

“Anakku, kau sudah sehat betul?” tanya beliau lembut.

“Alhamdulillah, Syaikh,” jawabku dengan menundukkan kepala. Aku tidak berani memandang beliau. Segan.

“Alhamdulillah. Terus bagaimana dengan kuliahmu?”

“Alhamdulillah. Judul tesis magister sudah diterima, Syaikh. Sekarang sedang mengumpulkan bahan lebih lengkap untuk menulis.”

“Alhamdulillah. Kau menulis tentang apa?”

“Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.”

“Bagus sekali. Said An-Nursi memang ulama luar biasa yang harus dikaji kelebihan yang diberikan Allah kepadanya. Lantas siapa pembimbingmu?”

“Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far.”

“Yang tinggal di dekat Masjid Rab’ah El-Adawea, Nasr City itu?”

“Benar, Syaikh.”

“Alhamdulillah. Kau insya Allah akan mendapat bimbingan dan kemudahan dari beliau. Beliau adalah salah seorang muridku angkatan pertama. Beliau mengambil sanad dan ijazah qiraah sab’ah dariku. Nanti akan aku telpon beliau agar memberikan bimbingan terbaik kepadamu. Dan agar kamu benar-benar menjadi pembela dan penyebar agama Allah di tanah airmu kelak.”

Suara Syaikh Utsman bernada optimis dan bahagia.

Diam-diam aku sangat kagum pada beliau yang sangat memperhatikan semua muridnya. Beliau memang tidak mau mengambil murid terlalu banyak. Tapi yang sedikit itu benar-benar beliau curahi perhatian yang luar biasa.

“Anakku. Aku mau bertanya masalah penting padamu. Apakah kau mau menikah?”

Pertanyaan Syaikh Utsman itu bagaikan guntur yang menyambar gendang telingaku. Aku kaget. Hatiku bergetar hebat.

Jika yang bertanya orang semacam Rudi, Hamdi, dan Saiful aku akan menjawabnya dengan santai, bahkan aku bisa menjawabnya dengan guyon.

Tapi ini yang bertanya adalah ulama terkemuka, gurunya para guru besar di Mesir.

“Maksud Syaikh bagaimana?”

“Apakah kau mau menikah dalam waktu dekat ini. Kalau mau, kebetulan ada orang shalih datang kepadaku. Ia memiliki keponakan yang shalihah yang baik agamanya dan minta dicarikan pasangan yang tepat untuk keponakannya itu. Aku melihat kau adalah pasangan yang tepat untuknya.”

Keringat dinginku keluar.

“Tapi aku mahasiswa miskin, Syaikh. Tidak punya biaya.”

“Baginda Nabi dulu menikah dalam keadaan miskin. Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga menikah dalam keadaan miskin. Aku sendiri menikah dalam keadaan miskin.

Begini Anakku, kau pikirkanlah dengan matang. Lakukanlah shalat istikharah. Gadis shalihah ini benar-benar shalihah. Dia mencari pemuda yang shalih, bukan pemuda yang kaya.

Sekarang pulanglah. Pikirkan dengan matang. Jika kau mantap dengan jawabanmu siap menikah atau tidak, secepatnya datanglah kau menemuiku.

Jika kau mantap, maka akan aku pertemukan kau dengan walinya dahulu. Jika tidak, maka aku akan mencarikan yang lain.”

Kata-kata Syaikh Utsman yang berwibawa itu merasuk dan mendesir hebat dalam jiwaku.

Sampai di rumah hatiku masih terasa bergetar atas pertanyaan sakral yang diajukan Syaikh Utsman. Jiwaku masih terasa berdesir.

Apa yang beliau tawarkan bukan sembarang tawaran. Yang beliau tawarkan adalah sebaik-baik rezeki bagi seorang pemuda.

Adakah rezeki lebih agung dari seorang gadis shalihah yang jika dipandang menyejukkan jiwa bagi seorang pemuda?

Aku belum bisa mempercayai apa yang aku alami hari ini.

Baru saja target dan peta hidup dibuat, tawaran untuk menikah datang sedemikian cepat.

Siap… atau tidak?

Aku harus minta penerang dari Allah Swt.

Siapa Malaikat Itu?

 


Wajah itu Nurul. Ya, Nurul. Ketika aku terbangun dari ketidaksadaran, aku melihatnya tidak jauh dari kakiku bersama teman-temannya. Kulihat sekilas wajahnya sendu. Ada juga ketua dan pengurus PPMI, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia. Saiful duduk di dekat kepalaku. Ia paling dekat denganku. Tangannya mengusap pipiku yang basah.


“Alhamdulillah, Mas Fahri sadar.” Aku mendengar mereka memuji Allah.


“Sabar Mas ya? Insya Allah segera sembuh,” lirih Saiful dengan mata berkaca-kaca.


“Aku sakit apa katanya, Saif?”


“Dokter belum menjelaskannya, Mas.”


Zaimul Abrar, Ketua PPMI, mendekat, mendoakan, dan atas nama seluruh mahasiswa ikut merasa sedih atas sakit yang menimpaku. Lalu gantian Nurul mewakili teman-temannya. Ketika dekat denganku, ia menatap dengan penuh iba dan sorot mata yang aku tidak tahu maknanya. Kedua matanya berkaca-kaca dan sendu.


“Cepat sembuh Kak. Cepat selesaikan masternya dan cepat mengabdi di tanah air tercinta,” katanya terbata-bata.


Aku mendengarnya dengan sesekali memejamkan mata.


“Mas, kami pamit. Kami sudah lama di sini. Syafakallah!” ucap Zaim.


“Kami juga minta diri Kak,” ikut Nurul.


Mereka pun pulang. Aku merasa wujudku benar-benar ada dan berarti. Aku merasa diperhatikan, disayang, dan dicintai semua orang.


Dua menit setelah mereka keluar, Syaikh Ahmad datang bersama Ummu Aiman. Syaikh Ahmad berusaha tersenyum padaku. Beliau memelukku pelan sambil mendoakan kesembuhanku. Ia tahu aku sakit dari Mishbah yang ketika shalat subuh mengabarkan padanya. Syaikh Ahmad memberikan sedikit tadzkirah yang membesarkan hatiku dan menguatkan jiwaku.


“Pintu-pintu surga terbuka lebar untuk orang yang sabar menerima ujian dari Allah.”


Syaikh Ahmad tidak lama berada di sisiku. Tak lebih dari seperempat jam. Setelah itu beliau pamit. Beliau membawa dua kilo anggur yang sangat segar.



---


Menjelang maghrib Dokter Ramzi Shakir memberi tahu setelah melihat hasil foto rontgen kepalaku bahwa aku harus dioperasi. Ada gumpalan darah beku yang harus dikeluarkan. Rencananya operasi besok pagi pukul delapan. Aku diminta untuk puasa malam ini. Aku mungkin akan tinggal di rumah sakit sekitar satu bulan lamanya.


Aku menitikkan air mata.


Saiful dan Mishbah menghibur, meskipun kulihat mereka berdua juga menitikkan air mata.


Menjelang Isya, Syaikh Utsman Abdul Fattah benar-benar datang bersama beberapa teman Mesir yang mengaji qiraah sab’ah pada beliau. Syaikh Utsman mengusap kepalaku, persis seperti ayahku mengusap kepalaku. Beliau tersenyum padaku.


Beliau meminta kepada semuanya untuk keluar sebentar. Beliau ingin berbicara hanya berdua denganku. Saiful, Mishbah, dan teman-teman Mesir keluar meninggalkan kami.


Syaikh Utsman duduk di kursi dekat dadaku.


Sambil mengelus rambut kepalaku beliau berkata,


“Anakku, ceritakan padaku apa yang dilakukan sahabat Nabi yang mulia, Abdullah bin Mas’ud padamu?”


Aku kaget bukan main. Bagaimana Syaikh Utsman tahu kalau aku bertemu sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud dalam pingsanku?


“Tadi malam jam tiga saat aku tidur setelah tahajud aku didatangi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu. Aku hanya sempat bersalaman saja. Beliau bilang akan menjengukmu sebelum aku menjengukmu.”


Syaikh Utsman seperti mengerti keherananku. Beliau menjelaskan bagaimana beliau tahu aku kedatangan Abdullah bin Mas’ud.


“Bagaimana Syaikh bisa yakin aku benar-benar didatangi Abdullah bin Mas’ud?” tanyaku dengan suara serak untuk lebih meyakinkan diriku.


“Seperti keyakinan Rasulullah ketika bermimpi akan berhaji dan membuka kota Makkah.”


Jawaban singkat Syaikh Utsman menyadarkan diriku akan kekuatan mimpi orang-orang saleh yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Untung aku sudah membaca dan menelaah kitab Ar-Ruh yang ditulis oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Ulama besar itu membahas masalah ruh dengan tuntas disertai dalil-dalil yang kuat. Bahwa ruh orang yang telah wafat bisa bertemu dengan ruh orang yang masih hidup atas izin dan kekuasaan Allah.


Syaikh Utsman masih menunggu jawabanku.


“Anakku, apa yang kau dapat dari Abdullah bin Mas’ud yang mendatangimu? Ceritakanlah pelan-pelan, aku ingin tahu.”


Aku lalu menceritakan semuanya.


Syaikh Utsman menitikkan air mata dan berkata,


“Allah yubarik fik ya bunayya.”


Beliau berpesan agar aku tidak menceritakan mimpi ini kepada siapa pun kecuali orang yang bisa dipercaya. Mimpi seperti ini tidak semua orang suka mendengarnya, dan tidak semua orang mempercayainya.


Syaikh Utsman lalu mengeluarkan botol kecil dari saku jubahnya.


“Ini aku bawakan air zamzam. Tidak banyak, namun semoga bermanfaat. Minumlah dengan terlebih dahulu membaca shalawat nabi dan berdoa meminta kesembuhan dan ilmu yang bermanfaat.”


Aku belum bisa menggerakkan tanganku. Syaikh Utsman sendiri yang meminumkan air zamzam itu ke mulutku.


Beliau berpesan agar aku memperbanyak istighfar dan shalawat, mengikuti semua petunjuk dokter, serta minum obat dengan teratur.


Aku juga menceritakan semua kecemasanku tentang operasi di kepalaku. Beliau menenangkan diriku dan meminta agar besok pagi meminta dokter melakukan rontgen ulang.


Jika memang harus dioperasi, maka harus dijalani.


Beliau mencium keningku seperti seorang kakek mencium cucunya.



---


Pagi hari aku merasa badanku lebih enak. Kepalaku lebih ringan.


Jam enam pagi aku meminta Mishbah memberi tahu dokter bahwa aku ingin dirontgen ulang. Aku tidak akan menandatangani surat kesediaan operasi sebelum hasil rontgen diperiksa kembali.


Dokter Ramzi memenuhi permintaanku.


Aku dibawa ke ruang rontgen. Kepalaku difoto dalam tiga posisi. Setelah itu aku dibawa kembali ke kamar.


Pukul setengah sembilan Dokter Ramzi datang dengan wajah cerah.


Beliau berkata,


“Entah ini mukjizat atau apa, gumpalan darah beku di bawah tempurung kepalanya itu telah tiada.”


Aku diminta mencoba menggerakkan tanganku. Meskipun sangat pelan, aku bisa.


“Tak perlu operasi. Kau akan sembuh seperti sedia kala.”


Aku mengucapkan syukur berkali-kali kepada Allah atas anugerah ini.


Sejak itu keadaanku semakin membaik. Hari kelima aku sudah bisa bangkit dari tempat tidur. Hari kesembilan aku sudah bisa ke toilet sendiri. Hari kesebelas aku sudah bisa berjalan-jalan ke taman.


Ketika hendak pulang dari rumah sakit, Saiful mengurus administrasi.


Ia kembali dengan wajah heran.


“Mas, biayanya semua sudah dilunasi seseorang.”


“Siapa yang melunasinya?”


“Pihak rumah sakit tidak mau menyebutkan namanya.”


Aku mencoba menanyakan kepada Tuan Boutros dan keluarganya, namun mereka mengatakan bukan mereka yang membayar.


“Semoga Allah membalas dia dengan pahala yang tiada hentinya,” lirihku.



---


Sejak pulang dari rumah sakit, aku sering memikirkan siapa sebenarnya orang yang melunasi seluruh biaya perawatanku.


Teman-teman mencoba menebak.


Ada yang menduga Syaikh Utsman. Ada yang menduga Syaikh Ahmad. Ada pula yang menduga pihak KBRI.


Namun entah mengapa, mata hatiku berkata bahwa orang itu bukan mereka.


Orang itu adalah seseorang yang berhati ikhlas, mengenalku, sangat perhatian padaku, namun aku tidak tahu siapa dia.


Aku hanya bisa berdoa agar suatu hari Allah membuka rahasia itu.


Agar aku tahu siapa sebenarnya malaikat yang telah menolongku.